Catatan Kritis SBY , Iran – Amerika Serikat

Berbicara penuh mengenai kesenjangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah, pasti tidak akan ada habisnya. Permasalaha ekonomi, serta peperangan yang terus menerus digencarkan oleh beberapa kawasan konflik yang ada di Negara Timur Tengah ini pun sudah menjadi konsumsi publik alias, sudah diketahui oleh publik di berbagai negara  mengenai kesenjangan Timur Tengah ini. diantaranya yang sedang hangat-hangatnya di perbincangkan akhir-akhir ini ialah mengenai kesenjangan geopolitik yang mempengaruhi situasi Global oleh negara Amerika dan juga Iran, pasca terjadinya pembunuhan Qassem Soleiman, sang Jendral terhormat dan ternama di Iran. Dimana Jendral ini termasuk pemimpin dari Elite Iran.

Selepas terjadinya pembunuhan tersebut, Iran pun tak terima dan gencar terhadap pengiriman Rudal yang dimiliki oleh negara tersebut. khusu lagi dikirimkan ke Markas Militer Amerika yang berada di Irak.

Catatan Kritis Global Iran dengan Amerika Serikat

Bagaimana ini bisa terjadi ?

Apa yang memicu hal tersebut ?

Adakah tanggapan dari sang presiden yakni Donald Trump atas masalah ini ?

Masalah ini lebih meniti kecatatan sejarah yang terjadi antara kedua negara tersebut. selain itu, Trump sendiri selaku presiden Amerika Serikat mengatakan dalam konferensi persnya tidak ada korban jiwa.

Lantas, nasib Indonesia selanjutnya bagaimana ?

Peperangan dunia ke 3 terlaksana, apakah Indonesia mendapatkan dampaknya ?..

Untuk Indonesia sendiri, mantan presiden RI ke-6 kita yakni Pak Susilo Bambang Yudhoyono atau kerap di sapa dengan pak SBY, angkat bicara mengenai pemikiran kritisnya terhadap Iran dengan Amerika. Kurang lebihnya catatan itu seperti ini.

Catatan Kritis Bersuara , SBY

# Catatan : Mengenai 3 Trillions Dollar War

Pak SBY sendiri selaku Doktor Ekonomi Politik Pedesaan, mengatakan dalam catatannya tersebut “ Mengapa, Donald Trump ini harus melakukan eksekusi terhadap Qassem Soleimani di Iran ? “ ..

Diambil dari buku berjudul The Three Trillion Dollar War 2008 oleh Prof. Stiglitz dan juga Linda Bilmes, mengenai peperangan Iran itu, dihargai 3 triliun dolar. Penggelinciran yang terjadi pada Saddam Hussein serta perebutan Irak ini sudah dalam kontrol negara Amerika Serikat yang terhitung mahal. Prof tersebut menuliskan patokan harganya dari 1 hingga 2 triliun dolar adanya. Jika bisa dikumpulkan secara full atau penuh semua, uang para taipan yang ada di Indonesia ini tidak akan sanggup untuk membiayai perang Iran itu.

Sebagai salah satu mantan Menteri Energi, pak SBY pasti sudah sangat paham akan siapa saja bandar-bandar perang Amerika di Irak itu. Serta mengetahui bagaimana penguasaan ladang-ladang minyak serta gas bumi yang membangun ISIS agar dapat menguasai ladang-ladang minyak tak hanya yang ada di Irak, namun juga berada di Suriah ( yang masih masuk kedalam kawasan Timur Tengah ) ditengahi oelh peperangan , bagaimana Food for Oil Polici itu bisa menangani krisis dalam membiayai peperangan.

Dengan Saddam lengser, otomatis Islam Sunni akan tergantikan atas rezim-rezim yang lebih dominan ke syiah. Maka, penetrasi yang dilakukan oleh Iran ke Irak pun semakin besar. Inilah yang membuat Trump panik, dan menilai sebagai salah satu ancaman besar yang terjadi. Jika saja hal itu benar terjadi, Trump takut akan kehilangan kepercayaan bandar minyak tersebut dan “ bye bye.. “ Trump di periode ke 2 akan hilang.

# Catatan : Imperium

Perang yang besar bukan hanya terjadi oleh 3 faktor yang sudah pak SBY sebutkan sebelumnya ( Miskalkulasi, pemimpin yang eratic, serta nasionalisme yang ekstrem ). Namun, hal ini lebih di perkuat dengan adanya bangsa dan juga kepemimpinannya ingin membangun sebuah Imperium. Yakni terdiri dari Imperium Romawi, Imperium Kristen romawi, Kalifah Islam serta Kolonialisme barat yang ditambahkan adanya semangat OBOR. Ini menjadi salah  satu contoh diman adanya sebuah kekuasaan yang bersifat besar untuk menguasai yang lemah.

Seperti halnya kekuasaan Amerika -> Timur Tengah yang berlangsung puluhan tahun dengan menggantikan sekutunya. Lalu disusul dengan Eropa , pasca oerang dunia 2 melalui keributan-keributan di Timur Tengah yang eskalasinya selalu terkontrol oleh Amerika Serikat.

Namun, beberapa tahun yang lalu Trump sendiri pernah kisruh dengan pemimpin Eropa dalam pertemuan NATO. Yang dimana Trump meminta sebuah iuran pengamanan dunia yang dibebankan kepada anggota NATO yang harus dinaikan biaya tersebut.  sikap Trump ini sendiri melumpuhkan adanya ISIS yang awal sekali dibesarkan oleh Amerika untuk menghadapi adanya pengaruh Rusia – Iran – Suriah yang justru malah memperburuk situasi tersebut. pasalnya, Iran serta Suriah tanpa ISIS pun juga sudah semakin kuat di Timur Tengah sana. Jika ini berlangsung, maka Imperium di Amerika dan Barat akan hancur sehancur hancurnya.

Lantas, terjadilah pembunuhan Jendral Qassem Soleimani yang dimana termasuk kedalam pembunuhan terencana dan juga presisi. Ini menjadi sebuah perang dari keharusan Amerika demi mempertahankan Imperium kekuasaanya.

# Catatan : Mengenai Atas Keterkaitan Dengan Indonesia

Pak SBY sendiri sempat menuliskan bahwasannya “ dunia sudah  diambang perang dengan tanpa melihat pentingnya sebuah kalimat satupun bagi Indonesia “..

Sejarah telah mencatat sebelumnya, bahwasannya Indonesia sendiri mendapatkan kemerdekaan karena adanya perang dunia Kedua. Tanpa dibantu ambisi Jepang dalam membangun Imperium Asia Raya, bisa dipastikan Pak Sukarno dan lainnya masih hidup di pengasingan.  Keterkaitan ini yang menyangkut ke negara Indonesia, bukan berarti harus ikut juga dalam menciptakan perang dunia ataupun berperan dalam mengikuti perdamaian dunia. Namun, disini tugasnya yakni kita harus bisa melihat apakah perang yang sebenarnya tidak memiliki kepastian ini memiliki sebuah manfaat untuk negeri ini ?.. atau jsutru hanya membuat buruk situasi yang artinya berdampak negatiof saja ?..

Pasti dengan situasi memanas di Timur Tengah, akan ada dampak yang di peroleh negara Indonesia. Yakni ;

  • Harga minyak akan menaik, karena negara kita termasuk kedalam negara net importir besar untuk perminyakan. Ototmatis, rakyat semakin dibuat susah dengan adanya kenaikan BBM ini.
  • Pertumbuhan ekonomi akan bertambah buruk dari hari ke harinya.
  • Ketegangan terjadi diantara kehidupan minoritas Syiah yang semakin membesar adanya.

Jika melihat lagi analisa yang dibuat oleh pak SBY, maka dalam hal Militernya, siapakah yang mungkin menjadi terorisnya ?

Lalu, jika benar terjadi, situasi kondisi di Indonesia sendiri seperti apa ?

Bisa kita yakini, bahwasannya situasi Timur Tengah ini memang akan sampai ke Indonesia. Dikarenakan, Islam Milita Indonesia akan memanfaatkan kekuatan anti RRC yang berada di Asia Tenggara yang merupakan sekutu dari Amerika Serikat. Sebagai salah satu fakta pendukungnya ialah, Rezim yang memiliki kecenderunagn terhadap RRC dan umat Islam dalam hal ini tidak mendapatkan kebijakan soal keuntungan politik. Apalagi amsalah pemerataan ekonomi,masih tidak akan mendapatkan akses tersebut.

Semoga dengan adanya catatan kritis dari Pak SBY ini , bisa membuat kita sadar akan situasi dunia yang semakin hari semakin kalut dalam dunia globalnya.