Perjuangan Hidup Anak Palestina di Tengah Peperangan

Kehidupan dari anak-anak Palestina memang kondisinya sudah sangat jauh berbeda dengan sebuah kondisi kehidupan dari anak-anak lainnya yang ada di negara lainnya. Mereka yang seharusnya sudah bisa menikmati sebuah masa kecil yang bahagia seperti anak-anak pada umumnya, namun kenyataan adalah mereka harus hidup menghadapi sebuah konflik peperangan, bahkan sejak mereka dilahirkan. Mereka yang masih sangat kecil dan tidak jarang menjadi korban dari penyerangan tentang Israel. Hingga sudah pasti hal tersebut nantinya akan menyebabkan trauma yang mendalam bagi mereka.

Perjuangan Hidup Anak Palestina di Tengah Peperangan

Mengutip dari laman Middle East Monitor, bahwa sejak 2007 hingga 2017 sudah lebih dari 3000 anak Palestina yang tewas akibat agresi militer yang dilakukan oleh Israel. 13.000 lebih dari anak-anak Palestina juga pada akhirnya mengalami sejumlah luka-luka serius akibat agresi tersebut. Tidak hanya itu, tentara Israel juga melakukan sejumlah penangkapan dan juga sejumlah penyiksaan terhadap anak-anak yang ada di Israel. Hal ini kemudian menyebabkan sebanyak 373.000 lebih dari anak Palestina membutuhkan sebuah trauma healing. Inilah sebuah potret kehidupan yang dilalui oleh anak-anak yang tinggal di Palestina, yang setiap harinya membuat hati kita nantinya terasa teriris.

Setiap Hari Melihat Diskriminasi

Siapapun nantinya tidak ada yang akan menginginkan hidup di sebuah negara yang penuh dengan konflik.Negara yang setiap harinya sangat akrab dengan suara dentuman bom yang terjadi, meriam dan juga rudal, melihat orang-orang terluka, berdarah bahkan juga orang tersebut siap meninggal setiap harinya, karena di sebabkan oleh sebuah kekejaman tentara musuh. Namun kondisi itulah yang ternyata terpaksa dijalani oleh anak-anak yang berada di Palestina.

Setiap harinya, setiap waktu, dimanapun, bahkan di rumah mereka sendiri, anak-anak Palestina ini adalah anak-anak yang kemudian sudah terbiasa dengan kemunculan para tentara Israel yang kemudian bisa dengan tiba-tiba menyerang keluarga mereka sendiri. Melihat penyiksaan bahkan mereka melihat pembunuhan terhadap keluarga mereka sudah bukan merupakan sebuah hal yang baru lagi untuk mereka. Bahkan biasanya tak jarang, mereka sendiri pun nantinya akan menjadi sebuah korban atau menjadi sasaran dari kekejaman zionis Israel. Anak-anak yang seharusnya dilindungi mereka jauh dari kata kekerasan. Namun hal ini tentunya tidak akan berlaku lagi bagi para anak yang berada di Palestina. Tentunya hal ini akan menjadi sebuah hal yang menyedihkan sekali.

Menghadapi Tentara Israel Untuk Pergi ke Sekolah

Kesulitan hidup anak-anak Palestina ini tidak berhenti sampai pada haknya hidup tenang mereka saja. Hak mereka untuk mendapat kan sebuah pendidikan pun harus diancam oleh tentara Israel. Anak-anak lain yang ada di belahan dunia ini bisa menikmati pendidikan dengan bebas, berangkat sekolah bersama dengan teman atau diantar oleh orang tua mereka, lalu melalui hari yang menyenangkan di sekolah. Namun hanya untuk sekedar berangkat sekolah pun dimana setiap hari, anak-anak yang ada di Palestina harus menghadapi sebuah blokade yang panjang dari tentara Israel lengkap dengan menggunakan senjata untuk menghentikan perjalanan mereka. Jika berhasil mereka nantinya akan sampai di sekolah. Namun jika tidak, maka nantinya tidak jarang dari mereka yang kemudian menjadi sasaran dari penyerangan bahkan, bisa berakhir dengan kematian. Sungguh sadis.

Belajar di Antara Reruntuhan Bangunan Sekolah

Bukan hanya rumah saja namun tempat tinggal mereka pun menjadi sasaran dari peluncuran rudal oleh militer Israel ini. Bahkan tempat umum seperti halnya sekolah pun nantinya juga tidak luput dari ledakan menakutkan tersebut. Nanti dari sinilah perjuangan anak palestina akan berlanjut.

Sudah susah untuk sampai ke sekolah, kemudian proses belajar mereka pun menemui banyak sekali kesulitan. Dengan kondisi hancur berantakan, gedung sekolah juga tidak bisa menjadi sebuah tempat yang kondusif lagi bagi mereka untuk belajar. Akhirnya mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut, termasuk juga dengan belajar menggunakan tenda darurat.

Bermain di Antara Reruntuhan Bangunan

Pastinya setiap anak akan gemar sekali untuk bermain dan mendambakan keceriaan sepuasnya, di tempat yang juga menyenangkan. Bermain di tempat yang penuh dengan mainan dan juga arena bermain yang mengasyikan tersebut pastinya akan menjadi sebuah keinginan yang dilakukan oleh semua anak yang berada di Palestina. Namun hal ini adalah sebuah hal yang tidak dapat dirasakan oleh anak-anak yang berada di Palestina.

Anak-anak yang ada di Palestina tidak akan mendapatkan sebuah hak bermain dengan cara yang leluasa. Mereka nantinya hanya bisa bermain di antara puing-puing dalam sisa reruntuhan rumah mereka akibat bombardir dari tentara Israel. Dengan terpaksa, nantinya mereka harus menikmati permainan dengan cara ala kadarnya di tenda pengungsian dan lingkungan yang penuh dengan ancaman.

Hidup dalam Kegelapan dan Kemiskinan

Anak-anak jaman sekarang harusnya tidak merasakan sebuah kegelapan di malam hari seperti kehidupan orang pada zaman dulu saat belum menikmati listrik. Namun, hal ini adalah sebuah hal yang tetap terjadi di Palestina hingga sekarang ini. Listrik yang hanya akan menyala selama 2 jam sehari, membuat mereka harus melewati setiap harinya tanpa sebuah cahaya. Blokade yang dilakukan oleh zionis Israel ini juga menjadi sebuah hal yang kemudian berdampak pada lemahnya ekonomi Palestina.

Ditemukan juga fakta bahwa rakyat yang ada di sekitar jalur Gaza hidup di bawah sebuah garis kemiskinan. Tentu saja ini nantinya akan berdampak pada semua pertumbuhan anak dan kemudian mengakibatkan sebuah gizi buruk bagi sebagian besar dari anak-anak yang berada di Palestina.

Kamar mandi

Ada sebuah hal yang juga sangat kontroversial yaitu adalah Administrative Detention (AD). Menurut sebuah ketentuan disini, militer Israel nantinya akan boleh menahan seseorang tanpa sebuah tuduhan yang jelas atau tanpa sebuah proses pengadilan berdasarkan dengan “bukti rahasia” yang tak ditunjukkan kepada tahanan maupun juga kepada pengacara mereka nantinya. Menurut Israel, tahanan dalam kategori tersebut merupakan sebuah ancaman terhadap keamanan nasional sehingga kasus mereka bisa digolongkan rahasia. Seperti yang terjadi pada Husam Abu Khalifa, dirinya adalah seorang anak yang ditahan karena dianggap berbahaya oleh tentara Israel. Usianya 16 tahun ketika dirinya ditahan, dan ia berada dalam tahanan dalam waktu 14 bulan.

Derita anak Palestina ini semoga bisa menjadi salah satu pelajaran bagi kita semua untuk dapat mensyukuri segala hal yang nantinya jauh lebih baik lagi dari yang mereka alami di sana. Mereka yang menghadapi semua kesulitan dan juga semua ancaman tersebut semuanya masih bisa menikmati kehidupan masa kecil dan mempunyai sebuah tekad belajar yang besar. Semoga kita juga bisa bersemangat dan kemudian bisa bersyukur seperti mereka.

Demikian itulah potret dari kehidupan anak-anak yang ada di Palestina. Kesedihan dan ketakutan yang dirasakan oleh anak-anak Palestina adalah sebuah hal yang telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Di tengah kondisi seperti itu, anak-anak palestina tetap mempunyai semangat juang yang tinggi untuk belajar.