Dampak Perang Timur Tengah

Konflik yang terjadi di Suriah dan telah berhasil memakan korban lebih dari 100 ribu jiwa dalam dua tahun terakhir, membuat masyarakat dunia menjadi semakin khawatir akan jatuhnya korban jiwa lebih besar lagi. Kekhawatiran tersebut juga semakin diperkuat dengan rencana Amerika Serikat (AS) yang nantinya akan melakukan sebuah serangan ‘terbatas’ ke Suriah. Bagi AS, opsi militer ini tampaknya dipilih setelah Suriah diduga kuat menggunakan sebuah persenjataan kimia untuk dapat memberantas kelompok pemberontak dan juga oposisi.

Dampak Perang Timur Tengah

Kebijakan tersebut juga sekaligus menunjukkan jika AS tetap memilih mengedepankan tindakan militer, sebagaimana yang ditempuh oleh para pendahulunya. Irak dan juga Afghanistan adalah sebuah contoh potret dari situs s1288 kebijakan luar negeri yang ada di Washington yang lebih fokus pada opsi militer terhadap sebuah negara yang dinilai AS ‘membandel’, ketimbang sebuah perundingan damai.

Perang terbuka

Upaya damai sebenarnya dahulu sudah pernah dilakukan berbagai pihak, termasuk jug AS. Namun, upaya tersebut tampaknya masih jauh dari api. Sayangnya, belakangan ini yang malah menguat justru opsi militer. Sikap negara-negara Arab sendiri yang juga mendukung tindakan militer. Bahkan, organisasi regional Arab, yaitu Liga Arab dalam sebuah sidangnya akhir pekan lalu mendukung, bahkan meminta AS untuk dapat menyerang Suriah.

Negara-negara Arab yang tergabung di dalam Liga Arab sendiri terdiri dari 21 negara, di bawah pimpinan dan juga komando Arab Saudi. Mereka punya kepentingan khusus dan juga menjadi sebuah alasan khusus. Pertama kepentingan ideologis, suriah yang minoritas syiah memimpin kaum Sunni sejak 50 tahun terakhir dan juga diduga telah banyak melakukan berbagai macam penindasan terhadap mayoritas. Syiah Suriah yang menjadi kepanjangan dari Syiah di Iran yang dianggap mayoritas. Dari sisi ideologis jelas tidak sama dengan Saudi, sehingga memunculkan sebuah solidaritas sunni.

Kedua, kepentingan politik. Secara geopolitik, negara-negara Arab yang juga semuanya memiliki kesamaan, bahkan menjadikan Suriah semacam musuh bersama, terutama sejak rezim Bashar Assad mulai berkuasa. Ketika ayah Bashar, Hafez Assad, mulai berkuasa Suriah relatif bisa diajak kerja sama di antara negara-negara Arab yang lainnya. Namun, di bawah rezim Assad, Suriah yang juga sudah semakin tunduk dan menjadi kaki tangan Iran di wilayah Timur Tengah. Ketidaknyamanan inilah yang menjadi dasar mengapa Liga Arab mendukung opsi militer.

Alasan geopolitik juga yang menjadikan negara Rusia, Iran, dan Cina ‘melindungi’ negara Suriah. Dari sisi geografis, Suriah adalah sebuah negara kecil, dengan jumlah populasi yang tidak lebih dari delapan juta jiwa, yang meliputi Syiah 30% dan Sunni 70%. Namun, secara geopolitik hal tersebut sangat penting untuk dapat dilakukan. Setidaknya bagi Iran, bertemu di aspek ideologi dan hal tersebut dapat dijadikan sebagai sebuah loncatan untuk bisa menghadapi Israel. Sementara bagi Rusia kepentingan bisnis persenjataan dan juga ideologi politik, yakni sosialis, sedangkan dalam perspektif Cina bertemu di dalam kepentingan bisnis secara umum, gas dan juga minyak. Cina dan Rusia memiliki hak veto di PBB, sebagaimana hak yang dimiliki oleh AS.

AS dan Rusia mengirimkan kapal-kapal perangnya, Iran dengan lantang nya menyatakan sebuah kesiapannya untuk dapat terlibat langsung, sementara untuk sekutu AS yaitu Israel sudah menyiapkan beberapa tank-tank tempur di dataran tinggi perbatasan Suriah. Karena itu, dapat dibayangkan jika AS jadi menyerang Suriah, maka potensi untuk terjadinya perang terbuka akan benar-benar menjadi kenyataan. Suriah juga akan menjadi panggung pertunjukan dari berbagai persenjataan canggih dan mutakhir.

Efek global

Perang terbuka yang terjadi di Timur Tengah secara signifikan akan membawa dampak yang cukup pelik dan negatif bagi masyarakat internasional secara umum. Keamanan energi menjadi sebuah sektor yang paling terkena dampak. Sebagai ladang minyak terbesar yang ada di dunia, Arab Saudi dan negara-negara lainnya yang menjadi pemasok lebih dari 45 persen minyak dunia akan membuat efek negatif terhadap perang Timur Tengah. Ketika Arab Spring yang melanda dunia tiga tahun lalu, harga minyak dunia saat itu sudah mencapai lebih 120 dolar AS/barel.

Stabilitas keamanan internasional jelas ikut terimbas. Indonesia juga tidak lepas dari kemungkinan tersebut, terlebih negara Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Dampak kelanjutannya keamanan nasional di berbagai negara menjadi lemah dan sangat rentan sekali munculnya sebuah gejolak sosial. Rakyat yang juga akan terhimpit oleh mahalnya kebutuhan pokok yang sangat melambung akibat harga minyak dan dolar AS yang semakin naik, sangat mudah meluapkan kemarahannya.

Bagi Indonesia, hal semacam ini nantinya harus sigap diantisipasi karena dampak langsungnya akan dirasakan oleh negeri ini jika perang benar-benar pecah. Setiap hari Indonesia menjadi negara yang berhasil mengimpor minyak mentah, dan rata-rata 300-400 ribu barel/hari. Stabilitas ekonomi, sosial, keamanan, dan juga energi ditumpukan pada ketersediaan energi tak terbarukan ini.

Alhasil, harapan mewujudkan tata dunia baru yang damai dan juga sejahtera nantinya hanya akan sia-sia belaka. Perang, di manapun, hanya akan menjadikan rakyat tidak berdosa dan tidak mengerti apapun, nantinya harus menanggung dosa. Mereka yang merupakan pihak pertama yang akan menjadi korban dari adu canggih persenjataan modern.

Kebijakan luar negeri Indonesia

Minimnya keterlibatan Indonesia di dalam politik Timur Tengah mengikuti kebijakan luar negeri secara bebas aktif. Di bawah kebijakan ini, negara kepulauan terbesar selalu memprioritaskan isu-isu domestik sambil tetap aktif untuk dapat mempromosikan perdamaian kepada dunia. Indonesia menjadi bagian dari negara yang menjaga perdamaian Internasional, untuk turut serta menjaga perdamaian dunia.

Kebijakan luar negeri yang dimiliki oleh Indonesia selalu mengutamakan pendekatan diplomasi yang digunakan untuk dapat mendukung perdamaian. Hal ini bisa dilihat pada sebuah sikap Indonesia terhadap ekspansi Israel yang ada di wilayah Tepi Barat. Indonesia telah menunjukkan sebuah solidaritas kepada negara Muslim dengan mendukung beberapa rancangan resolusi yang mengutuk tindakan Israel tapi Indonesia tidak mengerahkan pasukan bersenjata.

Melihat politik luar negeri Indonesia yang sudah berjalan selama ini, sepertinya Indonesia juga akan menjauh dari konflik AS dan juga Iran. Menteri Luar Negeri Indonesia yaitu Retno Marsudi hanya memanggil duta besar Arab Saudi dan juga Iran di Jakarta dan mendorong keduanya untuk meredakan ketegangan tersebut. Selain itu, tidak akan ada tindakan keras lainnya di Indonesia dalam menanggapi konflik ini.

Indonesia Berharap AS dan Iran melakukan De-eskalasi’

Menteri Luar Negeri Indonesia yaitu Retno Marsudi bertemu dengan Duta Besar Iran Mohammad Azad dan juga Duta Besar Amerika Serikat Joseph R. Donovan masing-masing secara terpisah terkait dengan kejadian pembunuhan yang dilakukan terhadap Jenderal Soleimani. Menteri Luar Negeri menyampaikan harapannya agar kedua pihak nantinya dapat melakukan de-eskalasi ketegangan di sana

Demikian itulah beberapa dampak perang timur tengah, khususnya untuk Indonesia. Walaupun Indonesia menjadi negara yang tidak terdampak langsung sata perang Timur tengah. Namun tetap mempengaruhi ekonomi luar, termasuk dengan ekspor minyak yang dilakukan oleh Indonesia dengan negara-negara yang ada di Timur tengah.