Category: Timur Tengah

Konflik Timur Tengah : Terjadinya Perang Irak dan Iran

Pada artikel sebelumnya, kalian sudah membaca dan sudah mengetahui bahwa Konflik di Timur Tengah juga sudah dirasakan oleh Israel dan Palestina. Dimana konfliknya sendiri menjadi sebuah perang yang begitu abadi di antara kedua negara ini. Namun ada juga beberapa artikel sebelum ini, kalian melihat konflik Perang Irak dan Iran. namun kali ini kami akan lebih spesifik lagi memberitahukan adanya peperangan di antara kedua negara tersebut. 

Dulu waktu jaman sekolah, kalian senang enggak sih sama yang namanya pelajaran Sejarah ? …. Bila senang, mungkin masih ada nih di bayangan kalian bagaimana perang Irak dan Iran ini bisa terjadi. Perang ini dimulai pada awal tahun 1980 sampai dengan tahun 1988 silam. Dulunya di tahun 1980 sudah terjadi sebuah peperangan antara Negara Irak dan juga Negara Iran. konflik Timur Tengah ini sudah terjadi sekitar 8 tahun lamanya. Dimulai dari tahun 1980 sampai berakhir di tahun 1988. Jika ada perang, pastinya akan ada sebab mengapa perang tersebut bisa terjadi. Jadi kalian tahu dong, bahwa pada artikel kali ini kami akan membahas mengenai konflik Timur Tengah yang terjadi antara Irak dan Iran. 

Latar Belakang Terjadinya konflik Irak dan Iran 

Dari situs ruangguru.com, disini kami menemukan adanya ringkasan atas latar belakang mengenai terjadinya peperangan pada konflik Irak dan Iran di Timur Tengah. Ringkasan ini sendiri sudah terdiri atas beberapa faktor seperti halnya : 

  • Terdapat sebuah keinginan dari Irak dan iran yang memang ingin menguasai sungai Shatt Al Arab. dimana Sungai Shatt Al Arab ini menjadi sebuah jalur perairan strategis yang akan mampu memisahkan Negara Irak dan Iran menuju ke Teluk Persia. Dari sepanjang perairan ini sudah dibangun atas pelabuhan-pelabuhan besar. Selain itu, wilayah ini juga menjadi jalur ekspor minyak sehingga menjadi sebuah wilayah sengketa yang nyata. 
  • Adanya sebuah keinginan juga dari negara Irak dan Iran untuk bisa menjadi penguasa Kawasan Teluk. Hal ini juga sudah dilakukan sejak negara Inggris bisa mengakhiri sebuah keterlibatan militernya pada kawasan teluk pada tahun 1971 silam. 
  • Lalu adapun Saddam Husein yakni seorang Presiden dari Negara Irak, dimana mereka ini adalah seorang muslim dengan aliran Sunni yang mengkhawatirkan akan adanya pemberontakan Syiah di Irak. nah pemberontakan ini sudah langsung terinspirasi dari terjadinya revolusi Iran di bawah langsung dari pimpinan Ayatullah Khomeini. 
  • Kini waktu melemahnya kekuatan Iran pasca Revolusi pada tahun 1979. Saddam Husein bisa yakin bahwa keadaan Irak sedang tidak stabil setelah revolusi karena eksekusi mati bagi para perwira-perwira perang yang pro terhadap Shah Reza Pahlevi. Hal ini nyatanya mampu untuk menguntungkan invasi yang memang akan dilakukan oleh negara Irak.

Jika dilihat langsung atas beberapa faktor di atas ini, maka terjadinya perang antara Irak dan Iran mampu disebabkan oleh adanya kepentingan dan juga keinginan yang sama di dalam menguasai sebuah wilayah. Perebutan wilayah tersebut yang kemudian mampu memicu kemunculan peperangan di antara keduanya. 

Awal Jalannya Peperangan Irak dan Iran 

Bisa dikatakan ini awal berlangsungnya perang Irak dan Iran. seperti yang sudah kami berikan penjelasan diatas tadi, dimana awal peperangan di antara kedua negara tersebut pada tahun 1980 silam. Dimana pada tahun ini, sedang berlangsungnya acara Konferensi Ekonomi Internasional yang sudah diselenggarakan oleh persatuan Mahasiswa Asia di Irak. Tiba-tiba saja ada sebuah bom yang langsung meledak dan tentunya mampu dalam menggagalkan acara tersebut. 

Karena kejadian inilah, yang membuat Irak sudah menganggap bahwa Iran sedang menantang untuk Perang. Selang 5 bulan setelahnya, lebih tepat pada tanggal 4 September tahun 1980, Iran secara tiba-tiba melakukan serangan dengan lancar ke beberapa wilayah di Irak. dimana wilayah ini mencakup : Desa Khanaqin – kawasan Muzayanah – Zurbaniyah – Qata Mandali serta Kawasan Mustapha dan juga menyerang daerah Instalasi minyak Neft Khaneh. Akibat atas serangan tersebut, puluhan rakyat Irak sudah menjadi korban. 

Kemudian disini Irak tidak tinggal diam begitu saja. Tak sampai sebulan, tepatnya pada tanggal 22 September tahun 1980 Irak sudah memulai serangan balasan. Disini irak sudah mulai menghancurkan pusat-pusat persenjataan berat dan juga pelabuhan atas udara Mehrabad – Teheran – Iran. 

Irak – juga berhasil dalam menduduki Pulau Tumb Besar dan juga Tumb Kecil atas wilayah sengketa kedua negara yang sudah langsung dikuasai oleh Iran selama ratusan tahun. Serangan ini kemudian dianggap sebagai kemenangan Irak. Akan tetapi Iran tidak tinggal diam begitu saja, dimana Iran mulai kembali dalam melakukan serangan balasan ke wilayah Basra dan Wasit. 

Peran ini pun semakin berlanjut, dengan aksi saling balas  serang juga tidak bisa dihindari lagi. Sampai pada akhirnya, pada bulan April tahun 1983 Irak mampu menghancurkan sumur Minyak yang berada di Nowruz yang mana membawa dampak besar bahkan ke negara-negara tetangganya. Dampaknya juga akan sangat buruk, dimana sumber daya air di sekitar wilayah Teluk sudah benar-benar tercemar oleh minyak. Hal ini akan membuat harga air minum di wilayah ini sangat amat mahal. Bahkan dari harga satu liter air pada saat itu hampir 5 kali dari harga standar minyak mentah OPEC. beberapa negara yang terkena dampak dari ini semua adalah : Negara Qatar – Negara Kuwait – Negara Bahrain. 

PERANG IRAK DAN IRAN TAHUN 1980 – 1988

Jumlah dari Korban yang terdampak akibat perang ini sudah bisa diperkirakan sebanyak 1.000.000.Korban tewas di antara kedua belah pihak ( Irak dan Iran ) diperkirakan sebanyak 50.000 jiwa. Dimana iran sudah menjadi pihak yang menderita kerugian paling besar lagi.
Sudah diperkirakan kurang lebihnya sebanyak 50.000 sampai 100.000 orang di Kurdi atau kelompok etnis di Timur Tengah telah terbunuh oleh serangan pasukan Irak selama rangkaian kampanye militer, yang sudah diberi nama kode Anfal atau Rampasan yang sudah berlangsung pada tahun 1988 silam. 

Akhir Peperangan Irak dan Iran 

Perang yang sudah berlangsung selama 8 tahun ini ternyata tidak akan membuahkan hasil. Sebab dalam perang ini tidak ada yang mendapatkan kemenangan dan tidak ada yang bisa dikatakan kalah juga. Sampai pada akhirnya, perang bisa berakhir setelah negara iran mampu menerima sebuah Resolusi Dewan Keamanan PBB No 598 pada tahun 1988. Pada resolusi ini, Iran juga akan diminta untuk melaksanakan sebuah gencatan senjata yang ada. Hal ini akan mengacu pada perjanjian Algiers yang telah disusun sejak tahun 1975 dan sudah disepakati oleh keduanya. 

Bagi yang belum tahu, Perjanjian Algier ini merupakan sebuah pernjanjian antara Irak dan Iran yang langsung dipelopori oleh Presiden Aljazair yakni Houari Boumedienne. Perjanjiannya sendiri sudah dilaksanakan di ibukota Aljazair yakni Algiers atau bisa disebut dengan Aljir. Tujuannya agar mampu dalam meredam perselisihan di antar kedua negara tersebut. Dimana pada perjanjian ini sudah dipertemukannya petinggi dari kedua negara. Yakni Saddam hussein dari irak dan juga Shah Reza pahlevi dari iran, dimana perjanjian Algier bisa ditandatangani pada tahun 1975. 

Perjanjian Algiers pada Tahun 1975 Dari kedua negara ini akan mampu melaksanakan penentuan batas dari perairan pada dasar Konstantinopel pada tahun 1931 dan atas dasar jalur Thalweg yang sudah terletak di Shatt Al-Arab. Irak dan juga Iran setuju untuk bisa memasuki sistem kerjasama keamanan di sepanjang perbatasan. Kedua negara harus bisa bertekad melakukan pengawasan ketat dan efektif terhadap perbatasan bersama, guna mengakhiri setiap bentuk infiltrasi dalam konteks militer. Jika sudah terjadi pelanggaran atau sebuah perselisihan atas perjanjian Algiers, langsung ditunjukan negara ketiga sebagai penengah atau diselesaikan melalui mahkamah internasional. 

Awal Mula Terjadinya Konflik Antara Israel dengan Palestina

Konflik antara Israel-Palestina adalah salah satu konflik paling abadi dan paling tragis di dunia, tetapi bagaimana konflik tersebut dimulai, dan apa yang akan terjadi di masa depan? Berikut pemaparan mengenai awal mula konflik Israel-Palestina, mengapa perdamaian belum tercapai, dan bagaimana prospek konflik ini di masa depan.

Dalam buku Sejarah Timur Tengah Jilid 2 (2013) karya Ismawati, kawasan Palestina pada masa lalu dikenal sebagai Kanaan, Yudea dan Tanah Suci. Pada tahun 1000-586 Masehi, Palestin adalah negara Yahudi yang menjadi jajahan Babilonia, Persia, Macedonia dan beberapa kerajaan Yunani. Baru pada tahun 636 Masehi, wilayah ini mulai berada di bawah kekuasaan Islam.

Latar Belakang Terjadinya Konflik

Awal mula terjadinya konflik antara Palestina dan Israel terjadi pasca Perang Dunia I. Di mana Inggris sebagai pemenang Perang Dunia I memberikan wilayah kepada bangsa Yahudi melalui Deklarasi Balfour (1917). Dari peristiwa ini, bangsa Yahudi menganggap bahwa kawasan Palestina adalah tanah air mereka. Dilain pihak, masyarakat Islam Palestina memiliki pendirian tersendiri terkait permasalahan klaim wilayah. Dalam buku Timur Tengah dalam Pergolakan (1982) karya Kirdi Dipoyudo, masyarakat Islam Palestina menganggap bahwa Inggris memaksakan pendirian negara Yahudi di kawasan Palestina yang bertentangan dengan keinginan mayoritas masyarakat Palestina. Selain itu, masyarakat Palestina juga menganggap bahwa negara-negara Barat berusaha untuk menyelesaikan masalah pengungsi Yahudi di Eropa dengan daftar tangkasnet merebut wilayah di negeri Arab.

Perkembangan Konflik

Pada 23 hingga 29 November 1947 PBB mengadakan sidang terkait permasalahan Palestina. Dari sidang tersebut keluar sebuah resolusi yang berisi pembagian wilayah Palestina bagi Yahudi dan Muslim. Namun, resolusi tersebut ditolak oleh pihak Muslim karena mereka menuntut seluruh wilayah Palestina.

Pada tahun 1948, terjadi perang antara masyarakat Muslim dan Yahudi di Palestina. Dalam perang ini, Yahudi-Israel mampu mengalahkan Islam-Palestina dan menggagalkan pendirian negara Palestina. Kekalahan tersebut menimbulkan banyak kerugian bagi masyarakat Islam-Palestina. Mereka terpecah menjadi beberapa golongan dan mayoritas wilayah Palestina dikuasai oleh Yahudi-Israel. Pada tahun 1964, perjuangan Islam-Palestina kembali muncul dengan didirikannya Palestine Liberation Organization (PLO). PLO bertujuan untuk mendirikan negara Palestina yang berdaulat melalui perang maupun diplomasi. PLO aktif dalam melakukan perlawanan gerilya kepada pendudukan Israel. Selain itu, mereka juga berusaha menggalang dukungan dari negara-negara muslim Arab dan internasional dalam forum PBB. Perjuangan PLO dan Islam-Palestina mendapatkan hasil pada 15 November 1988 dengan proklamasi kemerdekaan Palestina. Proklamasi tersebut mendapat pengakuan dari 20 negara dunia, termasuk Indonesia. Di sisi lain, Israel, Amerika Serikat, dan beberapa negara Barat menolak proklamasi kemerdekaan Palestina. Hal tersebut menyebabkan konflik antara Israel dan Palestina masih tetap berlangsung hingga sekarang.

Dampak Konflik antara Palestina dan Israel

Beberapa dampak yang didapat karena konflik tersebut bagi dunia internasional yaitu :

  • Munculnya sentimen anti Yahudi di beberapa negara Islam di dunia
  • Munculnya solidaritas umat Islam dunia untuk mendukung perjuangan orang Palestina
  • Terjadi krisis politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah

Mengapa Perdamaian Konflik Tersebut Belum Tercapai?

Setelah bertahun-tahun konflik yang diwarnai kekerasan, kedua belah pihak mencapai kesepakatan pada 1993, di mana Palestina akan mengakui negara Israel dan Israel akan mengakui Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sebagai perwakilan sah rakyat Palestina. Disebut Perjanjian Oslo, kesepakatan itu juga menciptakan Otoritas Palestina yang memiliki beberapa kekuasaan pemerintahan sendiri yang terbatas di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Itu adalah kesepakatan sementara, sebelum apa yang seharusnya menjadi perjanjian damai komprehensif dalam lima tahun. Itu tidak terjadi. Ada KTT perdamaian yang gagal diselenggarakan oleh AS pada 2000. Kunjungan Ariel Sharon pria yang saat itu akan menjadi Perdana Menteri Israel ke Kuil Mount di Yerusalem Timur yang dilihat oleh Palestina sebagai penegasan kedaulatan Israel atas Masjid Al-Aqṣā (situs tersuci ketiga Islam), merupakan salah satu alasan utama yang mengarah pada intifada kedua (pemberontakan dengan kekerasan) warga Palestina.

Selama lima tahun berikutnya, ada sekitar 3.000 korban dari warga Palestina dan 1.000 korban Israel, di mana banyak warga sipil Israel tewas karena aksi bom bunuh diri. Konsekuensinya sangat besar. Israel mundur dari Gaza, dan pada pertengahan 2000-an Hamas sebuah faksi fundamentalis Sunni Palestina yang dianggap sebagai organisasi teroris oleh banyak negara mengambil alih wilayah pesisir. Fatah organisasi Palestina yang lebih umum tetap mengendalikan Otoritas Palestina yang diakui secara eksternal, yang berbasis di Tepi Barat.

Hamas menggunakan Gaza sebagai landasan untuk serangan roket atau mortir yang sesekali melintasi perbatasan, yang memperkuat pandangan publik Israel. Karenanya, Gaza ditempatkan di bawah blokade militer Israel yang membatasi pasokan makanan, air, dan energi untuk 1,8 juta penduduknya. Kondisi hidup masyarakat Palestina hingga saat ini telah digambarkan sebagai penjara terbuka terbesar yang ada di dunia.

Bagaimana dengan Solusi 2 Negara?

Pihak dari Israel tidak akan pernah menerima hak diaspora pengungsi Palestina untuk kembali ke Israel, karena hal itu pada dasarnya akan mengubah sifat Israel menjadi negara minoritas Yahudi. Ini telah membangkitkan perbandingan yang tidak nyaman dengan Afrika Selatan di bawah apartheid, termasuk dalam laporan pada 2017 oleh Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Barat, dan bahkan di masa lalu oleh mantan politisi Israel. Pihak Israel mengkritik perbandingan apartheid yang dibuat dalam laporan itu.

Emmanuel Nahshon, juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, membandingkannya dengan tabloid Nazi dan memberi tanda bahwa Sekretaris Jenderal PBB António Guterres belum mendukung laporan tersebut. Solusi dua negara umumnya diperdebatkan sebagai satu-satunya solusi jangka panjang. Tetapi ada banyak kendala untuk itu.

Apa yang Menanti Masa Depan?

Politik Israel mungkin menjadi kendala lebih lanjut. Dr Merom mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu subjek investigasi korupsi dan penyuapan secara ideologis menentang status kenegaraan Palestina. Netanyahu telah memenangkan lima pemilu, dan tetap populer dalam pemilu meskipun ada penyelidikan korupsi. Dia berada di jalur yang tepat untuk menjadi perdana menteri terlama dalam sejarah Israel. Adapun terkait prospek untuk perdamaian di masa depan, tidak ada yang terlalu optimis dalam jangka pendek hingga menengah. Di Jalur Gaza, kekerasan terus berkobar. Awal Mei 2019 lalu, tembakan roket dari Gaza dan aksi militer Israel mengakibatkan kematian di kedua belah pihak. Gencatan senjata yang rapuh sudah terbentuk, tetapi terus goyah. Tentara Israel dan gerilyawan Palestina di Jalur Gaza telah bertempur dalam tiga perang sejak 2008.

Utusan PBB untuk Timur Tengah Nickolay Mladenov memperingatkan pada bulan Mei tentang adanya “risiko perang” kembali. Dan Dr Merom menunjukkan bahwa jajaran moderat sekuler di kedua belah pihak telah berkurang, dan kaum radikal telah memperoleh tempat setelah bertahun-tahun pertempuran dan adanya kerugian di kedua pihak, meskipun jauh lebih banyak kematian di pihak Palestina.

Perang Irak dan Iran, Konflik yang ada di Timur Tengah

Hari ini sudah 40 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 22 September 1980, konflik militer berkepanjangan antara Irak dan Iran dimulai. Pertempuran pertama terjadi pada 22 September 1980, ketika pasukan Irak menyerbu wilayah barat Iran. Namun, Irak mengklaim bahwa perang telah pecah sejak 4 September 1980, ketika Iran melancarkan tembakan ke sejumlah pos perbatasan Irak. Melansir History, sengketa perbatasan yang berkepanjangan dan kekacauan politik di Iran, mendorong Presiden Irak Saddam Hussein untuk melancarkan invasi ke provinsi penghasil minyak Iran, Khuzestan. Setelah kesuksesan serangan di awal perang, serangan Irak berhasil dipukul mundur. Pada 1982, Irak secara sukarela menarik pasukan dan mencoba memulai kesepakatan damai, tetapi pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khomeini justru memulai kembali pertempuran. 

Keputusan itu mengakibatkan kematian ribuan pemuda wajib militer Iran di Iran. Kedua negara juga meluncurkan bom ke area pemukiman masing-masing, dan Irak diketahui juga menggunakan senjata kimia. Sementara itu, di Teluk Persia, “perang tanker” antara kedua negara membuat pengiriman minyak menjadi terhambat, dan secara otomatis menaikkan harga minyak.

Akar dari Konflik Tersebut

Akar dari peperangan dari dua negara tersebut itu terletak pada sejumlah sengketa teritorial dan juga politik antara Iran dan Irak. Irak ingin menguasai wilayah perbatasan Iran yang kaya akan minyak di Khuzestan, sebuah wilayah yang sebagian besar dihuni oleh etnis Arab. Irak berusaha untuk memperluas kedaulatannya. Presiden Irak Saddam Hussein ingin menegaskan kembali kedaulatan negaranya atas kedua tepian Shatt al-Arab, sungai yang terbentuk dari pertemuan sungai Tigris dan Efrat yang secara historis merupakan perbatasan antara kedua negara. Saddam juga khawatir atas upaya pemerintah revolusioner Iran yang mendorong kelompok Syiah di Irak untuk melakukan pemberontakan. Dengan mengambil inisiatif untuk melakukan serangan awal, Irak mengambil keuntungan dari kekacauan yang tampak dari pemerintah baru Iran, juga dari demoralisasi dan pembubaran pasukan bersenjata utama Iran.

Jalannya Perang Irak dan Iran

Awal terjadinya ketegangan antara dua negara tersebut yaitu pada April 1980. Pada saat itu, sedang berlangsung acara Konferensi Ekonomi Internasional yang diselenggarakan oleh persatuan mahasiswa Asia di Irak. Tiba-tiba saja nih, sebuah bom meledak dan tentunya menggagalkan acara tersebut. Karena kejadian itu, Irak menganggap bahwa Iran sedang menantang untuk berperang. Selang 5 bulan kemudian, tepatnya pada 4 September 1980, Iran tiba-tiba saja melancarkan serangan ke beberapa wilayah Irak, seperti desa Khanaqin, Muzayanah, Zurbaniyah, Qata Mandali dan Mustapha dan instalasi minyak Neft Khaneh. Akibat dari serangan ini, puluhan rakyat Irak menjadi korban.

Kemudian Irak tidak tinggal diam. Tidak sampai sebulan, tepatnya pada 22 September 1980 Irak memulai serangan balasan. Irak mulai menghancurkan pusat-pusat persenjataan berat dan juga pelabuhan udara Mehrabad, Teheran, Iran. Irak berhasil menduduki Pulau Tumb Besar dan Tumb Kecil (wilayah sengketa kedua negara) yang sudah dikuasai oleh Iran selama ratusan tahun. Serangan ini kemudian dianggap sebagai kemenangan Irak. Akan tetapi Iran tidak tinggal diam, Iran kembali melakukan serangan balasan ke wilayah Basra dan Wasit.

Perang ini terus berlanjut, aksi saling balas serang pun tidak bisa dihindari. Hingga akhirnya pada bulan April 1983, Irak menghancurkan sumur minyak di Nowruz yang membawa dampak besar bahkan ke negara-negara tetangganya. Dampaknya sangat buruk. Sumber daya air di sekitar wilayah Teluk tercemar oleh minyak. Hal ini membuat harga air minum di wilayah ini sangat mahal. Bahkan, harga satu liter air pada saat itu hamper lima kali dari harga standar minyak mentah OPEC.

Beberapa negara yang terkena dampak dari perang tersebut adalah Qatar, Kuwait dan Bahrain. Perang ini terus berlanjut hingga tahun ke delapan.

Serangan yang Mendadak

Pada September 1980, tentara Irak dengan hati-hati bergerak di sepanjang front menuju Khuzestan. Pergerakan tiba-tiba ini mengejutkan Iran. Pasukan Irak kemudian berhasil merebut kota Khorramshahr, tetapi gagal merebut pusat penyulingan minyak penting di Abadan. Namun, pada Desember 1980 invasi Irak terhenti sekitar 80–120 km di dalam wilayah Iran setelah mendapat perlawanan kuat yang tak terduga. Iran melancarkan serangan balik menggunakan milisi revolusioner (Garda Revolusi) untuk mendukung angkatan bersenjata utamanya. Gabungan kekuatan itu mulai memaksa Irak untuk mengundurkan pasukannya pada 1981. Mula-mula, pasukan Iran sukses mendorong Irak kembali ke seberang Sungai Karun, Iran dan kemudian merebut kembali Khorramshahr pada 1982. Membaca situasi itu Irak secara sukarela menarik pasukannya dari semua wilayah Iran dan mulai mencari kesepakatan damai dengan Iran.

Perang tersebut Mengalami Kebuntuan

Di di bawah kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang memendam kebencian pribadi terhadap Saddam Hussein, Iran dengan gigih melanjutkan perang, dengan tujuan  menggulingkan kepemimpinan Saddam di Irak. Namun, pertahanan Irak menguat saat berada di tanah mereka sendiri, sehingga perang itu berakhir dengan kebuntuan. Iran berulang kali melancarkan serangan infanteri yang tidak membuahkan hasil, mengirim gelombang demi gelombang serangan infanteri, yang sebagian terdiri dari pemuda wajib militer tidak terlatih dan tidak bersenjata. Serangan-serangan itu berhasil dihalau oleh pasukan dan kekuatan udara Irak yang superior. Kedua negara akhirnya terlibat dalam serangan udara dan rudal sporadis, yang menyasar kota dan instalasi militer serta kilang minyak masing-masing. Mereka juga saling menyerang pengiriman tanker minyak di Teluk Persia. Serangan Iran terhadap kapal tanker Kuwait dan negara-negara Teluk lainnya mendorong Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa Barat untuk menempatkan kapal perang di Teluk Persia untuk mengamankan pasokan minyak dunia.

Menghasilkan sebuah Kesepakatan

Di sisi lain, kekuatan perang Irak secara terbuka dibiayai oleh Arab Saudi, Kuwait, dan negara-negara tetangga Arab lainnya, serta secara diam-diam didukung oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet, sementara itu, sekutu utama Iran hanya Suriah dan Libya. Irak terus menuntut kesepakatan damai pada pertengahan 1980-an, usaha itu menjadi sulit setelah adanya laporan bahwa Irak telah menggunakan senjata kimia mematikan terhadap pasukan Iran serta terhadap warga sipil Irak-Kurdi, yang dianggap oleh pemerintah Irak bersimpati kepada Iran. Dilaporkan, serangan itu, salah satunya terjadi di dalam dan sekitar desa Kurdi ? halabja pada Maret 1988, yang mengakibatkan tewasnya 5.000 warga sipil. Pada pertengahan 1980-an, kebuntuan militer berlanjut, tetapi pada Agustus 1988 situasi ekonomi Iran yang memburuk dan kemenangan Irak di medan perang, akhirnya memaksa Iran untuk menerima gencatan senjata yang dimediasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pertempuran diakhiri dengan gencatan senjata 1988, meskipun dimulainya kembali hubungan diplomatik normal dan penarikan pasukan tidak terjadi sampai penandatanganan perjanjian perdamaian resmi pada 16 Agustus 1990.

Korban Jiwa Dalam Konflik

Jumlah total kombatan di kedua sisi tidak jelas; tetapi jelas bahwa kedua negara itu sepenuhnya dimobilisasi, dan kebanyakan pria dewasa dipersenjatai untuk perang. Sementara itu, jumlah korban yang jatuh sangat besar tetapi angkanya tidak pasti. Perkiraan jumlah korban berkisar dari 1.000.000 hingga dua kali lipat jumlah itu. Jumlah yang terbunuh di kedua sisi diperkirakan 500.000 orang, dengan Iran menderita kerugian terbesar. Selain itu, diperkirakan antara 50.000 dan 100.000 orang Kurdi dibunuh oleh pasukan Irak selama rangkaian kampanye militer yang diberi sandi Anfal. Kampanye militer itu berlangsung pada 1988.  Pada bulan Agustus 1990, ketika Irak disibukkan dengan invasi ke Kuwait, dikenal juga sebagai Perang Teluk, Irak dan Iran memulihkan hubungan diplomatik mereka. Irak juga menyetujui persyaratan Iran untuk penyelesaian perang, yaitu penarikan pasukan Irak dari wilayah Iran yang diduduki, pembagian kedaulatan atas jalur air Shat al-Arab, dan pertukaran tawanan perang. Pertukaran tawanan baru selesai pada Maret 2003.

Apakah ada Alasan Kenapa Perang Saudara di Arab Tidak Akan Pernah Berakhir? 2

Artikel ini melanjutkan artikel yang sebelumnya, dimana dengan secara singkat akan kami jelaskan kembali mengenai perang saudara yang ada di Arab, dalam kondisi ini perang antar saudara tidak akan mudah untuk berakhir bahkan ada yang mengatakan bahwa perang ini tidak akan pernah berakhir, karena rezim telah memberikan peluang untuk warga Arab sendiri pun bisa berperang antar saudara, karena rezim ini yang paling berkuasa di antara polisi nasional yang ada disana sehingga dalam hal inilah yang tidak bisa dikatakan untuk berhenti berperang antar saudara.

Identitas sipil pada era liberal ini pun menjadi Kontradiksi pada era liberal seperti ada pada kesenjangan ekonomi yang terjadi pada masyarakat yang ada disana, hal apapun dapat dengan mudah dimanipulasi pada sistem parlementer dan juga pemerintahan yang hanya untuk menguntungkan para kaum elit itu adalah menjadikan sebuah alasan di balik kejatuhannya dan juga perlucutannya oleh rezim dengan menggunakan otoriter dan populis yang ada di Arab. Mereka akan merebut paksa kekuasaan yang ada dengan cara apapun itu misalnya dengan cara kudeta yang kebanyakan itu akan bisa dijabarkan langsung menggunakan sebuah ikatan partisan. Bahkan dengan adanya rezim tradisionalis, legitimasi mereka dibangun dengan atas struktur yang memiliki beberapa keberpihakan yang telah mengendap lama dan melindungi sistem politik yang ada di wilayah sana.

Melucuti Domain Publik

Dari paruh kedua pada abad ke-20 hingga abad sekarang ini, ada negara-negara Arab yang melakukan ekspansi dan juga dengan mudah  mengambil alih sebuah kendali atas masyarakat nya melalui nasionalisasi seperti yang sering dilakukan oleh rezim populis atau melalui monopoli sumber kemakmuran yang ada di negara lain. Dengan cara itu, negara dengan mudah mulai menguasai mpo slot online terbaru perekonomian dan memberangus ruang publik itu. Semua orang yang ada di sana menjadi sandera keamanan nasional. Negara akan menjadi eksekutor kekuasaan, kemakmuran dan juga pada status sosialnya, meski kontrol nya itu ada pada negara itu sendiri hanya mungkin melalui sebuah ikatan partisan atau kekeluargaan.

Dengan melucuti sebuah domain publik seperti pers yang sangat bebas dan sistem parlementer yang ada, negara mulai menghancurkan ruang yang dimana ada sebuah identitas sipil dan nasional yang bisa saja untuk diayomi dan juga bisa untuk dikembangkan di luar lingkup kelompok sosial yang ada. Yang terakhir itu sudah mencakup kehidupan yang dilakukan sehari-hari dengan bertetangga, di klub-klub atau jejaring pertemanan yang ada juga dengan mudah menjadi ruang lingkup dari kelompok sosial dan ini meliputi kontak langsung atau ada sebuah lingkaran yang telah mendukung bisnis yang ada saat itu, yang sebaliknya itu akan ada berdasarkan melalui afiliasi kekeluargaan dan sektarian.

Hal ini sangat bertentangan dengan lingkup harian kelompok sosial yang ada di sekitarnya karena sangat berbeda dengan kelompok sosial yang ada, identitas yang sudah modern ini akan sangat terasa lebih terkesan lebih abstrak lagi, tidak memiliki sebuah berbentuk dan yang tidak biasa. Identitas ini akan langsung mengusung semangat yang sangat”kolektif” atau individu yang selalu sendiri hal ini pula yang membuatnya menjadi tidak termasuk kedalam hubungan sosial sehari-hari. “Bangsa” adalah salah satu contoh dari sebuah fenomena yang terjadi pada saat ini, yang paling terutama itu dengan seruan kolektif imajiner yang menggerakan hubungan masyarakat sekitar dengan aktifitas sehari-hari mereka. Hal ini sama seperti kata Benedict Anderson, memiliki sebuah identitas yang modern itu akan hanya ada jika kalian mulai dikembangkan di sepanjang lingkup yang sangat domain pada publik.

Teori ini sudah dibuktikan bahwa benar dari sudut pandang kelas, meskipun hal ini hanya bisa untuk disimak dalam konteks pergulatan yang terjadi di kelas itu sendiri. Terlebih lagi, jika identitas kelas hanya dapat bisa berperan jika untuk didukung oleh logika saja dan juga dengan kemerdekaan ekonomi yang ada, kecuali hal ini diganti dengan sistem kenegaraan yang akan menghasilkan sebuah keuntungan untuk pemerataan kemakmuran sekitarnya, hal ini bertransformasi dengan cara menjamin kemakmuran yang kalian miliki dan membeli kesetiaan yang ada pada orang lain dengan sangat mudah mungkin hal ini tidak akan pernah ada atau bahkan ada tetapi akan sangat sulit untuk didapatkan.

Dengan menggunakan aturan seperti memonopoli perekonomian masyarakat, negara yang dalam tradisi Arab ini akan menjadi jalur untuk menuju kemakmuran yang akan didapatkan oleh kelas yang modern. Kesejahteraan ini hanya bisa dicapai melalui negara dengan menggunakan  bentuk kontrak kerja atau memiliki sebuah izin ekspor dan juga impor, atau bahkan akan dilakukan mengamankan jabatan yang ada dari pemerintahan yang membuka peluang korupsi yang besar. Pada jenis interaksi yang seperti semacam ini memperkuat lagi suatu hubungan persaudaraan yang sudah diwakili oleh jejaring klientel di antara para pejabat pemerintah dan lingkarannya untuk mencapai sebuah kesuksesan yang sudah diharapkan oleh banyak nya orang yang berpikir demikian.

Negara Arab, entah itu dalam perannya akan menjamin kemakmuran atau akan menjamin populis, hal ini lah yang tidak pernah bisa untuk dianggap sebagai negara yang sudah modern dalam konteks normal, karena dimana masyarakat madani sedang berusaha untuk membangun sebuah bangsa yang sebenarnya yang baik dan benar menurut pandangan orang madani. 

Inilah ada Beberapa aktor yang Utama pada Perang Suriah

Bashar al Assad

Presiden Suriah Bashar al Assad ini bersama dengan rezim di Damaskus adalah penyebab yang paling utama dengan mulainya pecahnya perang saudara yang dimulai pada tahun 2011. Banyak rakyat yang tak puas atas kepemimpinannya selama 4 tahun silam sedang menggelar berbagai aksi protes kepadanya dan yang dijawab menggunakan tembakan peluru tajam. Dengan menggunakannya sumbu peledak perang ini lah yang menewaskan beberapa remaja yang telah menggambar grafiti bahwa mereka anti Assad di tahanan aparat keamanan sekitar.

Pemberontak yang ada di Suriah

Mereka mulai menampakan diri pada kelompok oposisi. Dalam kenyataannya yang sebenarnya itu mereka adalah kelompok militan yang mempunyai berbagai macam agenda, dan sangat kebetulan mereka memiliki satu sasaran, yaitu dengan menumbangkan rezim Bashar al Assad. Kelompok ini itu yang paling menonjol yaitu kelompok Free Syrian Army, serta Front al Nusra yang merupakan dari cabangnya al Qaeda di Suriah. Akibat terjadinya perang saudara ini, ada banyak orang kurang lebih sekitar 300.000 orang yang tewas dan ada lebih dari 12 juta warga Suriah mengungsi karena sedang ada peperangan di suriah hal ini yang dapat mereka lakukan untuk mengurangi korban jiwa lagi.

Islamic State atau IS

Walaupun kelompok ini baru muncul pada awal tahun 2014, IS ini merupakan sebuah kelompok yang bersenjata paling kuat dan juga yang paling ditakuti di Timur Tengah. Pada kelompok Sunni ini didukung langsung oleh pakar militer bekas pasukan yang sangat elit di Saddam Hussein dari Irak. Anggotanya itu mulai berdatangan dari berbagai negara Eropa yang ada jadi tidak hanya dari negara Timur Tengah saja yang bergabung pada kelompok Islamic State ini. Sudah ada dari berbagai kebanyakan anak muda yang mengikuti, militan, radikal, dan mempunyai keahlian pada bidang militer ataupun pada teknologi informatika. IS kini telah menguasai kawasan yang sangat luas di Suriah dan Irak.

Apakah ada Alasan Kenapa Perang Saudara di Arab Tidak Akan Pernah Berakhir?

Perang saudara yang ada di Arab merujuk pada konteks pada kelompok yang ingin hidup melalui sebuah ikatan yang kekeluargaan dan juga antar suku. Sebab itu jugalah menurut dari Morris Ayek, seorang cendekiawan yang berasal dari Suriah, mengatakan bahwa perang yang ada di Timur tengah ini tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun.

Dunia Arab ini berdetak dengan sebuah ritme antar perang saudara, di Suriah dan juga Irak, bahkan ada dari Libya, yaman dan juga dari Somalia. Sebelumnya itu ada Libanon, Sudan dan juga ada Aljazair. Perang pernah sempat berhenti lalu kemudian mulai berkecamuk kembali. Dan contoh yang paling ekstrim nya itu ada sebuah fenomena ini mungkin dapat dikatakan sebagai perang saudara juga yang mulai berkepanjangan di Lebanon.

 Bahkan ada sebuah keterangan dan juga ada stabilitas yang terkadang itu tercipta terkadang perang dingin yaitu saudara yang dilancarkan oleh rezim sang penguasa terhadap rakyatnya. Karena sebuah kestabilitasan dan juga keamanan yang ada di dunia Arab ini hanyalah sebuah kekuasaan yang akan mengandalkan polisi rahasia dan juga militer yang ia miliki.

Konsep dari Arab itu sendiri adalah sebuah perang saudara akan merujuk kepada sebuah tali persaudaraan, sangat berbeda dengan yang di Inggris atau juga di negara Jerman yang akan merajuk kepada perang antar negara bukan antar saudara. Pada konsep tersebutlah sebuah endapan dari sebuah perdebatan yang sedang marak terjadi pada tahun 1990-an ada sebuah gagasan yaitu “masyarakat madani” sebagai sebuah perantara antar individu dan juga negara, bentuk dari sebuah partai-partai dan juga sebagai politik, serta dengan adanya serikat buruh atau dengan organisasi kemasyarakatan yang ada.

Dalam sebuah skenario yang ada di Arab, sebuah entitas akan berfungsi untuk menjembatani rakyatnya dan juga pemerinta nya adalah sebuah suku yang ada pada negara itu, dan juga akan ada klan atau sebuah institusi keagamaan, yang semuanya itu sudah berhubungan dalam sebuah ikatan kekeluargaan yang dimilikinya, bukanlah sebuah struktur sipil atau juga institusi yang sudah modern. Untuk sebuah alasan memiliki sebuah konsep komunitas yang dibuat untuk saling membedakan dengan sebuah fenomena masyarakat madani yang telah hilang atau bahkan baru seumur jagung ketika ia ada di negara Timur Tengah. Ada sebuah perdebatan tentang adanya masyarakat madani dan juga sebuah komunitas yang saat itu dijadikan semata-mata fenomena yang ada di Arab.

Disini pun, ada sebuah keunikan dari bahasa Arab – meski memiliki sebuah istilah tersebut akan tetapi sangat serupa dalam bahasa lain – hal ini sangat berguna ketika memahami sebuah perang saudara yang ada di Arab sebagai perang antara entitas sosial yang ada pada saat itu. Istilah perang saudara ini jika ada di bahasa Rusia, Perancis, Spanyol, Yunani dan lainnya adalah perang antara warga negara. Ada sebuah kelompok-kelompok yang mengidentifikasikan dirinya melalui ideologi dan institusi modern untuk membidik kemenangan dan juga ideologi-ideologi panutannya.

Sebaliknya pada perang saudara Arab adalah sebuah terjadinya konflik antara sanak saudara. Pasalnya itu ada sebuah kelompok sosial yang sangat cenderung untuk menjadi partisan, entah itu memiliki sifat sektarian, kesukuan, kepartaian atau bisa juga etnis. Perbedaan itu sangatlah penting antara dua jenis konflik ini adalah bahwa perang saudara Arab yang tidak akan ada memiliki akhir dari sebuah perang tersebut. Di dunia non-Arab, konflik akan berakhir ketika salah satu nya itu adalah ketika ideologinya itu terkalahkan, sementara yang ada di bangsa Arab, kemenangan itu tidak memungkinkan untuk menutup cerita. Kaum Sunni, Syiah, Alawit dan kaum Kristen akan tetap selalu ada, sama juga seperti bangsa Arab, Kurdi atau Sudan Selatan mereka itu akan tetap sama tidak akan ada yang berubah.

Motor Konflik Berupa sebuah Ikatan Sosial

Satu-satunya sebuah poin yang ada dalam perang saudara yang ada di Arab ini adalah sebuah wilayah dari kekuasaan yang bisanya itu sudah didominasi dengan warlord yang sudah menggunakan hidup sebagai sebuah pengorbanan untuk perang sebagai untuk sumber kemakmuran, dan juga melakukan pemaksaan dan penjarahan. Hal ini sangat berbeda dengan perang saudara yang berada di negara lain atau ditempat tempat lain, yang dimana dari kedua pihak ini akan selalu bertikai dan juga membidik pertumbuhan ekonomi mereka untuk menjadi sebuah jaminan sumber daya dan juga menjadikan nya kemenangan. Sangat ironis jika model mencari dari keuntungan yang seperti ini dengan cara yang serupa pula dengan struktur perekonomian yang ada di Arab.

Politisasi kelompok sosial sudah terjadi dalam dua bentuk. Pada level ini itu yang kasatmata, dalam kasus yang terjadi pada Islam Politik misalnya, baik itu dari Syiah, Sunni atau juga dari Kristen Maronit, afiliasi sektarian dipolitisasi. Tapi juga ada sebuah fenomena yang sangat samar tidak terlihat, yang dimana rezim Suriah pada saat ini dan juga pada pemerintah Irak pada era Saddam Hussein, belum lagi pada Partai Sosialis Progresif Libanon, yang telah mengusung ideologi yang sudah modern, namun masih banyak yang mengandalkan ikatan sosial sebagai motor penggerak mereka.

Dan disinilah kita memiliki sebuah ikatan pada peperangan yang terjadi pada perang saudara yang ada di Afrika, di mana dari masing-masing suku ini sudah membentuk barisan liberal dan juga sudah membangun demokratis atau progresif nya sendiri yang menandakan bahwa sedang terjadi peperangan antar saudara.

Lantas kenapa Arab ini mengorbankan sebuah perang antar suku malah bukan perang saudara? Atau kenapa bisa identita sipil yang modern ini telah gagal untuk menggeser identitas pada kesukuan yang ada di Arab? Akan ada adaptasi antar identitas sipil semua itu tidak ada pengecualian untuk adanya sebuah kemunculan terjadinya perang kembali. Pada fenomena ini sudah ada banyak sekali yang terjadi pada abad ke-20. Tetapi sangat dilema ketika kalian menghadapi sebuah identitas yang berdasarkan sebuah ikatan kekeluargaan yang akan terjadi perang saudara tanpa hentinya.

Identitas Sipil dan juga Era Liberal

Sudah di penghujung abad yang ke-19 hingga tahun 1940-an, pada era liberal Arab ini mengalami perkembangan dan juga pertumbuhan pada identitas sipilnya. Hal ini itu memiliki beberapa faktor yang sudah menciptakan sebuah fenomena antaranya itu: yang pertama itu dari perekonomian dan juga kemerdekaan yang mulai munculnya industri yang sudah modern yang biasa saja dapat memungkinkan tumbuhnya sebuah aspek lain. Termasuk pada identitas pada kelas lain.

Pergulatan yang muncul itu akan muncul pada saat di dalam roda ekonomi terkristalisasi di sepanjang garis kelas yang melintang dan juga dapat menggeser identitas sipil yang lain. Buruh akan hidup dalam kondisi yang sangat mengenaskan dan mereka akan mulai mengidentifikasikan diri mereka masing-masing sebagai pion dalam perang untuk melawan eksploitasi kapitalis, terlepas itu dari afiliasi yang ada di sektariannya.

Yang kedua itu adalah sistem dari parlementernya, ada sebuah kebebasan pers dan tumbuhnya kelas yang sudah mulai menengah untuk menciptakan ruang publik yang mengadopsi bahasa bersama dan juga untuk menggeser peran yang ada di komunitas atau kelompok sosial yang ada di perang tersebut. Ini tidak akan berarti ada absen dari kelompok sosial yang ada. Sebaliknya itu, mereka akan tetap aktif dan berakar ke di dalam partai-partai atau gerakan politik pada saat era Arab pada masa itu.

Meski demikian, pada kemerdekaan ekonomi dan juga eksistensi memiliki ruang publik untuk membuka jalan bagi terbentuknya area yang sudah terbebas dari ikatan kekeluargaan atau perang keluarga yang sedang terjadi saat itu. Terlebih lagi ada kelompok-kelompok sosial yang mengharuskan untuk mengembangkan citra yang ada dan juga mengembangkan bahasa yang sudah inklusif dan tidak mengisolasinya dari kelompok lain.

Kesenjangan Beda Kehidupan Dunia Barat & Timur Tengah

Kita semua tau kehidupan timur tengah sendiri yang menjadi salah satu bagian yang masih terdapat beberapa perang. Antara kemewahan dengan sebuah kepiluan dan juga kehancuran. Perang di negara timur tengah yang hingga kini tidak menemukan sebuah titik terang dna juga terus berlanjut. Membuat orang-orang yang tinggal khususnya di suriah dna negara terdampak perang sendiri jauh dari kata nyaman dan sejahtera. Dimana mereka selalu hidup dengan rasa takut dengan rasa cemas karena bukan tidak mungkin mereka menjadi korban dari peperangan yang dapat terjadi kapan saja.

Kesenjangan di Timur Tengah

Seperti beberapa karya yang digabungkan dalam dua sisi berbeda membuat seolah ada kesenjangan yang sangat berbeda di antara dunia barat dan juga yang terjadi di Timur Tengah. Dalam artikel ini akan dibahas beberapa kesenjangan antara kehidupan masyarakat barat dengan juga Timur tengah. Dengan sebuah perbedaan yang sangat kontras orang dapat melihat kesenjangan yang sangat jelas. Seperti halnya beber[a hal di bawah ini

Peperangan Timur Tengah

Anak-anak yang mengalami atau menjadi korban peperangan yang ada di timur tengah tentunya hidupnya akan tak layak tidak seperti anak-anak lainnya. Mereka biasanya harus berjuang untuk dapat bertahan hidup dan menghindari perang agar tetap dapat melanjutkan hidup. Berbeda sekali dengan di wilayah barat dimana anak-anak dapat hidup dengan nyaman dan tenang. Karena wilayah tersebut tidak terdampak perang.

Anak Menjadi Prajurit di Medan Perang

Anak-anak yang hidup dan juga berada di wilayah contohnya seperti Gaza sudah mengambil pilihan untuk dapat menjadi perajurit perang. Anak-anak yang menjadi prajurit di medan perang dengan menggunakan senjata yang mematikan. Dimana mereka harus mengorbankan ka waktu belajar dan juga bermain mereka. Sangat berbeda dengan anak-anak yang ada di negara lain yang dapat melakukan berbagai macam aktifitas yang mereka sukai tanpa adanya hal berbau kekerasan yang dapat mereka rasakan.

Kota yang Menyeramkan

Jika di tempat lainya terdapat hamparan warna-warni dengan berbagai macam keindahan yang ada tanpa adanya hal-hal yang mengerikan dan juga dapat mengancam nyawa. Dibandingkan dengan ribuan senjata api di setiap sudut kota yang dapat mencelakai siapa saja mereka yang lengah atau yang berusaha melawan. Hal ini tentunya akan sangat kontras jika harus dibandingkan. Dimana masyarakat kehilangan kesan kota yang indah dan nyaman menjadi suatu tempat yang mengerikan.

Tempat Bermain yang Nyaman

Ketika beberapa anak di negara yang sedang mengalami dampak perang harus bermain di kondisi yang tidak memungkinanan di bebera bagian kendaraan perang yang digunakan, hal ini tentunya akan sangat berbahaya dan juga sangat mengancam nyawa mereka. Namun, mereka tentunya tidak mempunyai pilihan lainnya sebab mereka sudah kehilangan tempat bermain mereka dan digantikan dengan medan tempur. Berbeda dengan beberapa anak yang dapat duduk dan bermain di tempat yang layak dan juga aman seperti halnya di taman bermain dengan beberapa orang teman.

Hak Pelajar yang Direnggut

Ketika pendidikan menjadi salah satu hal yang penting di setiap negara, dimana beberapa orang dapat merasakan bangga dan dapat meraih pendidikan yang sempurna seperti halnya mendapatkan piala academy award. Sedangkan beberapa anak di negara lain harus bertahan hidup dan mengorbankan pendidikan mereka, bahkan banyak anak-anak di daerah perang tidak dapat membaca, karena putusnya pendidikan di sana diakibatkan oleh perang. Yang anak-anak tersebut dapat lakukan adalah mengacungkan senjata perang sebagai salah satu bentuk perlawanan dan juga kebanggaannya.

Kelaparan

Banyak sekali anak-anak yang negaranya mengalami konflik mengalami masalah kelaparan dan juga kemiskinan. Dimana tidak tercukupinya nutrisi yang seharusnya mereka peroleh dalam masa pertumbuhan anak-anak. Akibatnya hal tersebut menyebabkan mereka tidak dapat tumbuh dengan baik, karena hak mereka di terenggut habis karena sebuah peperangan. Bahkan tinggal di barak pengungsian pun tidak menjadi suatu hal yang baik untuk mereka. Banyak sekali anak-anak yang kekurangan gizi atau tidak tumbuh dengan sempurna. Berbeda dengan anak di tempat lainnya yang dapat mencukupi hidupnya dengan nutrisi dan dapat tumbuh menjadi sempurna.

Liburan yang Tak Pernah Ada

Ketika gambaran sebuah roket yang hendak diluncurkan menjadi suatu hal yang menyedihkan dengan gambaran para imigran yang akan liburan ke negara lain dengan sangat menyenangkan. Hal ini menjadi sebuah kesenjangan yang tentunya sangat jauh untuk dirasakan. Dimana di beberapa negara terdampak perang sendiri jangankan untuk pergi berlibur untuk meninggalkan tempat tersebut pun akan sangat sulit. Berbeda dengan beberapa orang di tempat lain yang dapat pergi kemanapun yang mereka inginkan tanpa terhalang oleh apapun.

Nasib yang Berbeda

Digambarkan seperti beberapa model yang sedang berjalan diatas catwalk dengan memamerkan beberapa kemawawan dan juga keindahan. Bertolak belakang dimana beberapa orang di tempat terpisah memanjang dengan nasib yang begitu memilukan. Disaat beberapa orang dapat menggunakan kebebasan mereka untuk dapat berekspresi dimana hal ini tidak dapat di lakukan di Timur tengah di tengah konflik yang sedang berlangsung saat ini.

Kebebasan Meraih Pendidikan

Kebebasan untuk dapat meraih sebuah pendidikan yang tak bisa dirasakan di negara tempat orang-orang yang tinggal di negara rawan konflik. Sehingga beberapa pernikahan di usia dini dapat saja terjadi, karena tidak adanya lagi pilihan untuk dapat meraih pendidikan selanjutnya. Dimana kebanyakan mimpi mereka harus dikubur dalam-dalam terutama dalam hal untuk meraih sebuah pendidikan. Tentunya hal ini sangat terbalik dengan mereka yang umumnya tinggal di dengar maju dan mempunyai berbagai macam pilihan dan hak untuk dapat mengejar pendidikan yang mereka inginkan tanpa adanya hambatan dan juga intimidasi yang datang.

Melakukan Hal yang Diinginkan

Tentunya gaya hidup orang-orang barat yang akan berbeda dengan orang yang hidup di Timur Tengah. Beberapa orang yang biasanya melakukan banyak hal yang mereka inginkan, umumnya mereka akan bebas menentukan banyak pilihan yang diinginkan. Berbeda dengan beberpa orang yang hidup di daerah yang rawan dengan konflik dalam ketakutan karena mereka akan selalu diawasi dan juga dicurigai tentunya hal tersebut menjadi satu hal yang tidak aman yang mereka dapatkan

Kesimpulan

Beberapa potret di atas adalah suatu cara yang dapat digunakan untuk mendorong perubahan sosial di dunia yang sekarang sedang mengalami sebuah pergolakan. Dimana beberapa orang di Timur Tengah menjalani hidup mereka dengan cara yang sangat memprihatinkan. Semoga dengan pembahasan di atas tentang potret sebuah kesenjangan sosial yang berbeda antara masyarakat Timur tengah dan juga negara-negara yang sedang dilanda konflik bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pada setiap individu untuk lebih peka dengan apa yang terjadi di Timur Tengah yang pada saat ini sedang dilanda perang.