Tag: kesenjangan

Konflik yang Harus Diwaspadai di 2020

Negara-negara teman dan juga musuh keduanya bahkan sama-sama tidak mengetahui di mana Amerika Serikat berdiri. Seiring dengan Washington yang menjanjikan banyak hal, namun tidak sedikit negara-negara regional yang mencari solusi sendiri, baik melalui kekerasan maupun sebuah diplomasi. Konflik lokal dapat menggambarkan sebuah tren global. Cara-cara mereka untuk dapat memulai dan juga menyelesaikan sebuah masalah mencerminkan pergeseran dalam hubungan antara negara-negara besar, intensitas kompetisi mereka, dan luasnya ambisi regional.

Konflik yang Harus Diwaspadai di 2020

Hanya waktu saja yang nantinya akan dapat menentukan seberapa besar kekuasaan Amerika Serikat, penghinaan terhadap sekutu, dan persatuan dengan rival tradisional nantinya akan bertahan, dan berapa banyak yang nanti nya akan hilang. Namun, akan sulit juga untuk dapat menyangkal bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di dunia ini. Pemahaman dan keseimbangan kekuasaan yang ada di dalam tatanan global dulunya dapat diprediksi, namun sekarang tidak lagi berlaku.

Peran negara besar lainnya yang sekarang juga berubah. China menunjukkan kesabaran sebuah negara yang percaya diri akan pengaruhnya, tetapi tidak terburu-buru untuk dapat menggunakannya. Mereka yang lebih memilih melihat pertempurannya, dengan fokus pada prioritas yang diidentifikasi sendiri. Rusia, sebaliknya, menunjukkan ketidaksabaran dan langsung ingin menegaskan kekuatannya sebelum konflik tersebut habis. Berikut ini Konflik-konflik yang terjadi di dunia, sebagian besar diantaranya terjadi di Timur tengah.

AFGHANISTAN

Lebih banyak orang terbunuh akibat sebuah pertempuran di Afghanistan daripada konflik lainnya saat ini di dunia. Namun mungkin ada kemungkinan untuk damai, yang dapat mengakhiri perang yang sudah berlangsung beberapa dekade terakhir. Tingkat pertumpahan darah telah melonjak selama dua tahun terakhir ini.

Serangan terpisah oleh gerilyawan Taliban dan juga mereka militan ISIS telah mengguncang kota-kota di seluruh negeri. Washington dan Kabul yang telah meningkatkan serangan udara dan juga serangan pasukan khusus, dimana para warga sipil kerap kali mengalami kekerasan. Penderitaan di daerah pedesaan juga sangat besar. Di tengah meningkatnya kekerasan, pemilihan presiden berlangsung pada akhir September kemarin.

Hasil awal, diumumkan yautu pada 22 Desember, memberikan petahana pada Presiden Ashraf Ghani, margin yang tipis lebih dari 50 persen yang diperlukan untuk dapat menghindari putaran kedua. Meski begitu, perselisihan dan juga kecurangan dengan lawan utama Ghani, yaity Abdullah Abdullah, kemungkinan akan membayangi para pemimpin Afghanistan hingga akhir 2020.

YAMAN

Pada tahun 2018, intervensi internasional yang agresif di Yaman dilakukan. Untuk mencegah memburuknya kondisi yang disebut sebagai krisis kemanusian. Kondisi krisis kemanusiaan terburuk dan kerugian manusia dalam perang ini sangat jelas. Konflik tersebut secara langsung membunuh sekitar 100.000 orang, dan terus mendorong negara termiskin ini menuju ambang kelaparan. Yaman telah menjadi pusat kritis dalam persaingan yang ada di Timur Tengah antara Iran di satu sisi dan juga Amerika Serikat dan sekutu regionalnya di sisi lain.

LIBIA

Perang yang terjadi di Libya berisiko semakin buruk dalam beberapa bulan mendatang, karena faksi-faksi yang akan bersaing semakin bergantung pada dukungan militer asing untuk dapat mengubah sebuah keseimbangan dari kekuasaan. Ancaman kekerasan besar telah menjulang sejak negara tersebut terpecah menjadi dua pemerintahan paralel setelah pemilu yang diperebutkan pada tahun 2014. Upaya PBB untuk dapat reunifikasi tersendat, dan sejak tahun 2016 Labia telah dibagi antara pemerintah Perdana Menteri Fayez al-Sarraj yang diakui secara internasional di dalam Tripoli dan pemerintah berbasis di Libya timur.

Namun, selama setahun terakhir, Libya yang menghadapi sebuah babak baru yang berbahaya. Pada April 2019, pasukan yang diperintahkan oleh Khalifa Haftar, yang didukung oleh pemerintah di timur, mengepung Tripoli, dan mendorong negara tersebut dan berhasil menyebabkan sebuah perang besar-besaran. Haftar mengaku memerangi teroris. Pada kenyataannya, walau beberapa saingannya adalah Islamis, mereka dalam milisi yang sama yaitu mengalahkan ISIS, dengan dukungan AS dan juga negara Barat lainnya.

AMERIKA SERIKAT, IRAN, ISRAEL, DAN TELUK PERSIA

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran juga meningkat menjadi lebih berbahaya pada tahun 2019. Dimana tahun 2020 membawa kedua negara tersebut dalam persaingan mereka ke titik puncak. Keputusan pemerintahan Trump untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir yang dilakukan pada tahun 2015 dan menjatuhkan sanksi sepihak terhadap Teheran telah menimbulkan bahaya yang signifikan, tetapi sejauh ini tidak menghasilkan sebuah diplomasi yang dicari oleh Washington .

Sebaliknya, Iran telah menanggapi apa yang dianggapnya sebagai serangan habis-habisan dengan meningkatkan program nuklirnya secara bertahap dan melanggar perjanjian. Ketegangan juga meningkat antara Israel dan Iran. Jika siklus ini nantinya tidak terputus, maka risiko konflik yang akan lebih luas juga akan meningkat.

ISRAEL-PALESTINA?

Sejak akhir Perang Dunia Kedua, perjuangan yang cukup sengit antara Israel dan Palestina telah menjadi salah satu dari konflik paling tragis dan tidak terselesaikan di dunia. Ini adalah sebuah kekacauan yang cukup rumit, tetapi pada satu tingkat sangat sederhana. Ini adalah sebuah konflik tentang wilayah. Akar konflik ini dimulai sejak zaman Alkitab. Tetapi dari perspektif yang ada di sejarah modern, akhir 1800-an dan awal 1900-an adalah pusat dari situasi konflik yang ada sekarang ini. Antara 1882 dan 1948, serangkaian Aliyah atau sebuah gerakan besar-besaran Yahudi dari seluruh dunia masuk ke suatu daerah, yang pada saat itu dari 1917 secara resmi dikenal sebagai negara Palestina.

Pada 1917, tidak lama sebelum Inggris menjadi kolonial di Palestina, negara tersebut mengeluarkan Deklarasi Balfour yang menyatakan, Pemerintah Yang Mulia mendukung pendirian rumah nasional untuk rakyat Yahudi yang ada di Palestina, dan akan melakukan upaya terbaik mereka untuk dapat memfasilitasi pencapaian tujuan ini. Masyarakat Palestina yang menolak langkah tersebut, tetapi sejarah tidak menguntungkan mereka. Menyusul kengerian Holocaust di mana hingga enam juta orang Yahudi terbunuh di Eropa, dorongan untuk dapat mendirikan sebuah negara Yahudi menjadi semakin kuat.

PERANG ARAB-ISRAEL

Pada 1947, PBB memilih untuk membagi wilayah yang diperebutkan tersebut menjadi tiga bagian; satu untuk orang Yahudi, satu lagi untuk orang Arab, dan rezim perwalian internasional di Yerusalem. Orang-orang Arab dimana tidak menerima kesepakatan tersebut, dan mengatakan bahwa PBB tidak punya hak untuk mengambil tanah mereka. Perang pun kemudian pecah dan berlangsung semakin keruh, hingga sekarang.

MENGAPA PERDAMAIAN BELUM TERCAPAI?

Setelah bertahun-tahun konflik yang diwarnai kekerasan, kedua belah pihak mencapai sebuah kesepakatan untuk damai pada 1993, di mana Palestina akan mengakui negara Israel dan juga Israel yang akan mengakui Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sebagai sebuah perwakilan yang sah rakyat Palestina. Disebut Perjanjian Oslo, kesepakatan itu juga menciptakan Otoritas Palestina yang memiliki beberapa kekuasaan pemerintahan sendiri yang terbatas di dalam wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza. Itu adalah sebuah kesepakatan sementara, sebelum apa yang seharusnya menjadi perjanjian damai dalam lima tahun.

Demikian itulah beberapa konflik yang terjadi dan harus diwaspadai tahun ini. Negara-negara konflik tersebut, didukung juga oleh negara besar lainnya untuk dapat melancarkan aksinya. Pada akhirnya ketegangan terjadi, saling kuat antara negara sekutu pun tidak terelakan lagi. Akibatnya banyak masyarakat yang terdampak karena konflik yang terjadi.