Tag: Konflik

Dampak Perang Timur Tengah

Konflik yang terjadi di Suriah dan telah berhasil memakan korban lebih dari 100 ribu jiwa dalam dua tahun terakhir, membuat masyarakat dunia menjadi semakin khawatir akan jatuhnya korban jiwa lebih besar lagi. Kekhawatiran tersebut juga semakin diperkuat dengan rencana Amerika Serikat (AS) yang nantinya akan melakukan sebuah serangan ‘terbatas’ ke Suriah. Bagi AS, opsi militer ini tampaknya dipilih setelah Suriah diduga kuat menggunakan sebuah persenjataan kimia untuk dapat memberantas kelompok pemberontak dan juga oposisi.

Dampak Perang Timur Tengah

Kebijakan tersebut juga sekaligus menunjukkan jika AS tetap memilih mengedepankan tindakan militer, sebagaimana yang ditempuh oleh para pendahulunya. Irak dan juga Afghanistan adalah sebuah contoh potret dari situs s1288 kebijakan luar negeri yang ada di Washington yang lebih fokus pada opsi militer terhadap sebuah negara yang dinilai AS ‘membandel’, ketimbang sebuah perundingan damai.

Perang terbuka

Upaya damai sebenarnya dahulu sudah pernah dilakukan berbagai pihak, termasuk jug AS. Namun, upaya tersebut tampaknya masih jauh dari api. Sayangnya, belakangan ini yang malah menguat justru opsi militer. Sikap negara-negara Arab sendiri yang juga mendukung tindakan militer. Bahkan, organisasi regional Arab, yaitu Liga Arab dalam sebuah sidangnya akhir pekan lalu mendukung, bahkan meminta AS untuk dapat menyerang Suriah.

Negara-negara Arab yang tergabung di dalam Liga Arab sendiri terdiri dari 21 negara, di bawah pimpinan dan juga komando Arab Saudi. Mereka punya kepentingan khusus dan juga menjadi sebuah alasan khusus. Pertama kepentingan ideologis, suriah yang minoritas syiah memimpin kaum Sunni sejak 50 tahun terakhir dan juga diduga telah banyak melakukan berbagai macam penindasan terhadap mayoritas. Syiah Suriah yang menjadi kepanjangan dari Syiah di Iran yang dianggap mayoritas. Dari sisi ideologis jelas tidak sama dengan Saudi, sehingga memunculkan sebuah solidaritas sunni.

Kedua, kepentingan politik. Secara geopolitik, negara-negara Arab yang juga semuanya memiliki kesamaan, bahkan menjadikan Suriah semacam musuh bersama, terutama sejak rezim Bashar Assad mulai berkuasa. Ketika ayah Bashar, Hafez Assad, mulai berkuasa Suriah relatif bisa diajak kerja sama di antara negara-negara Arab yang lainnya. Namun, di bawah rezim Assad, Suriah yang juga sudah semakin tunduk dan menjadi kaki tangan Iran di wilayah Timur Tengah. Ketidaknyamanan inilah yang menjadi dasar mengapa Liga Arab mendukung opsi militer.

Alasan geopolitik juga yang menjadikan negara Rusia, Iran, dan Cina ‘melindungi’ negara Suriah. Dari sisi geografis, Suriah adalah sebuah negara kecil, dengan jumlah populasi yang tidak lebih dari delapan juta jiwa, yang meliputi Syiah 30% dan Sunni 70%. Namun, secara geopolitik hal tersebut sangat penting untuk dapat dilakukan. Setidaknya bagi Iran, bertemu di aspek ideologi dan hal tersebut dapat dijadikan sebagai sebuah loncatan untuk bisa menghadapi Israel. Sementara bagi Rusia kepentingan bisnis persenjataan dan juga ideologi politik, yakni sosialis, sedangkan dalam perspektif Cina bertemu di dalam kepentingan bisnis secara umum, gas dan juga minyak. Cina dan Rusia memiliki hak veto di PBB, sebagaimana hak yang dimiliki oleh AS.

AS dan Rusia mengirimkan kapal-kapal perangnya, Iran dengan lantang nya menyatakan sebuah kesiapannya untuk dapat terlibat langsung, sementara untuk sekutu AS yaitu Israel sudah menyiapkan beberapa tank-tank tempur di dataran tinggi perbatasan Suriah. Karena itu, dapat dibayangkan jika AS jadi menyerang Suriah, maka potensi untuk terjadinya perang terbuka akan benar-benar menjadi kenyataan. Suriah juga akan menjadi panggung pertunjukan dari berbagai persenjataan canggih dan mutakhir.

Efek global

Perang terbuka yang terjadi di Timur Tengah secara signifikan akan membawa dampak yang cukup pelik dan negatif bagi masyarakat internasional secara umum. Keamanan energi menjadi sebuah sektor yang paling terkena dampak. Sebagai ladang minyak terbesar yang ada di dunia, Arab Saudi dan negara-negara lainnya yang menjadi pemasok lebih dari 45 persen minyak dunia akan membuat efek negatif terhadap perang Timur Tengah. Ketika Arab Spring yang melanda dunia tiga tahun lalu, harga minyak dunia saat itu sudah mencapai lebih 120 dolar AS/barel.

Stabilitas keamanan internasional jelas ikut terimbas. Indonesia juga tidak lepas dari kemungkinan tersebut, terlebih negara Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Dampak kelanjutannya keamanan nasional di berbagai negara menjadi lemah dan sangat rentan sekali munculnya sebuah gejolak sosial. Rakyat yang juga akan terhimpit oleh mahalnya kebutuhan pokok yang sangat melambung akibat harga minyak dan dolar AS yang semakin naik, sangat mudah meluapkan kemarahannya.

Bagi Indonesia, hal semacam ini nantinya harus sigap diantisipasi karena dampak langsungnya akan dirasakan oleh negeri ini jika perang benar-benar pecah. Setiap hari Indonesia menjadi negara yang berhasil mengimpor minyak mentah, dan rata-rata 300-400 ribu barel/hari. Stabilitas ekonomi, sosial, keamanan, dan juga energi ditumpukan pada ketersediaan energi tak terbarukan ini.

Alhasil, harapan mewujudkan tata dunia baru yang damai dan juga sejahtera nantinya hanya akan sia-sia belaka. Perang, di manapun, hanya akan menjadikan rakyat tidak berdosa dan tidak mengerti apapun, nantinya harus menanggung dosa. Mereka yang merupakan pihak pertama yang akan menjadi korban dari adu canggih persenjataan modern.

Kebijakan luar negeri Indonesia

Minimnya keterlibatan Indonesia di dalam politik Timur Tengah mengikuti kebijakan luar negeri secara bebas aktif. Di bawah kebijakan ini, negara kepulauan terbesar selalu memprioritaskan isu-isu domestik sambil tetap aktif untuk dapat mempromosikan perdamaian kepada dunia. Indonesia menjadi bagian dari negara yang menjaga perdamaian Internasional, untuk turut serta menjaga perdamaian dunia.

Kebijakan luar negeri yang dimiliki oleh Indonesia selalu mengutamakan pendekatan diplomasi yang digunakan untuk dapat mendukung perdamaian. Hal ini bisa dilihat pada sebuah sikap Indonesia terhadap ekspansi Israel yang ada di wilayah Tepi Barat. Indonesia telah menunjukkan sebuah solidaritas kepada negara Muslim dengan mendukung beberapa rancangan resolusi yang mengutuk tindakan Israel tapi Indonesia tidak mengerahkan pasukan bersenjata.

Melihat politik luar negeri Indonesia yang sudah berjalan selama ini, sepertinya Indonesia juga akan menjauh dari konflik AS dan juga Iran. Menteri Luar Negeri Indonesia yaitu Retno Marsudi hanya memanggil duta besar Arab Saudi dan juga Iran di Jakarta dan mendorong keduanya untuk meredakan ketegangan tersebut. Selain itu, tidak akan ada tindakan keras lainnya di Indonesia dalam menanggapi konflik ini.

Indonesia Berharap AS dan Iran melakukan De-eskalasi’

Menteri Luar Negeri Indonesia yaitu Retno Marsudi bertemu dengan Duta Besar Iran Mohammad Azad dan juga Duta Besar Amerika Serikat Joseph R. Donovan masing-masing secara terpisah terkait dengan kejadian pembunuhan yang dilakukan terhadap Jenderal Soleimani. Menteri Luar Negeri menyampaikan harapannya agar kedua pihak nantinya dapat melakukan de-eskalasi ketegangan di sana

Demikian itulah beberapa dampak perang timur tengah, khususnya untuk Indonesia. Walaupun Indonesia menjadi negara yang tidak terdampak langsung sata perang Timur tengah. Namun tetap mempengaruhi ekonomi luar, termasuk dengan ekspor minyak yang dilakukan oleh Indonesia dengan negara-negara yang ada di Timur tengah.

Konflik yang Harus Diwaspadai di 2020

Negara-negara teman dan juga musuh keduanya bahkan sama-sama tidak mengetahui di mana Amerika Serikat berdiri. Seiring dengan Washington yang menjanjikan banyak hal, namun tidak sedikit negara-negara regional yang mencari solusi sendiri, baik melalui kekerasan maupun sebuah diplomasi. Konflik lokal dapat menggambarkan sebuah tren global. Cara-cara mereka untuk dapat memulai dan juga menyelesaikan sebuah masalah mencerminkan pergeseran dalam hubungan antara negara-negara besar, intensitas kompetisi mereka, dan luasnya ambisi regional.

Konflik yang Harus Diwaspadai di 2020

Hanya waktu saja yang nantinya akan dapat menentukan seberapa besar kekuasaan Amerika Serikat, penghinaan terhadap sekutu, dan persatuan dengan rival tradisional nantinya akan bertahan, dan berapa banyak yang nanti nya akan hilang. Namun, akan sulit juga untuk dapat menyangkal bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di dunia ini. Pemahaman dan keseimbangan kekuasaan yang ada di dalam tatanan global dulunya dapat diprediksi, namun sekarang tidak lagi berlaku.

Peran negara besar lainnya yang sekarang juga berubah. China menunjukkan kesabaran sebuah negara yang percaya diri akan pengaruhnya, tetapi tidak terburu-buru untuk dapat menggunakannya. Mereka yang lebih memilih melihat pertempurannya, dengan fokus pada prioritas yang diidentifikasi sendiri. Rusia, sebaliknya, menunjukkan ketidaksabaran dan langsung ingin menegaskan kekuatannya sebelum konflik tersebut habis. Berikut ini Konflik-konflik yang terjadi di dunia, sebagian besar diantaranya terjadi di Timur tengah.

AFGHANISTAN

Lebih banyak orang terbunuh akibat sebuah pertempuran di Afghanistan daripada konflik lainnya saat ini di dunia. Namun mungkin ada kemungkinan untuk damai, yang dapat mengakhiri perang yang sudah berlangsung beberapa dekade terakhir. Tingkat pertumpahan darah telah melonjak selama dua tahun terakhir ini.

Serangan terpisah oleh gerilyawan Taliban dan juga mereka militan ISIS telah mengguncang kota-kota di seluruh negeri. Washington dan Kabul yang telah meningkatkan serangan udara dan juga serangan pasukan khusus, dimana para warga sipil kerap kali mengalami kekerasan. Penderitaan di daerah pedesaan juga sangat besar. Di tengah meningkatnya kekerasan, pemilihan presiden berlangsung pada akhir September kemarin.

Hasil awal, diumumkan yautu pada 22 Desember, memberikan petahana pada Presiden Ashraf Ghani, margin yang tipis lebih dari 50 persen yang diperlukan untuk dapat menghindari putaran kedua. Meski begitu, perselisihan dan juga kecurangan dengan lawan utama Ghani, yaity Abdullah Abdullah, kemungkinan akan membayangi para pemimpin Afghanistan hingga akhir 2020.

YAMAN

Pada tahun 2018, intervensi internasional yang agresif di Yaman dilakukan. Untuk mencegah memburuknya kondisi yang disebut sebagai krisis kemanusian. Kondisi krisis kemanusiaan terburuk dan kerugian manusia dalam perang ini sangat jelas. Konflik tersebut secara langsung membunuh sekitar 100.000 orang, dan terus mendorong negara termiskin ini menuju ambang kelaparan. Yaman telah menjadi pusat kritis dalam persaingan yang ada di Timur Tengah antara Iran di satu sisi dan juga Amerika Serikat dan sekutu regionalnya di sisi lain.

LIBIA

Perang yang terjadi di Libya berisiko semakin buruk dalam beberapa bulan mendatang, karena faksi-faksi yang akan bersaing semakin bergantung pada dukungan militer asing untuk dapat mengubah sebuah keseimbangan dari kekuasaan. Ancaman kekerasan besar telah menjulang sejak negara tersebut terpecah menjadi dua pemerintahan paralel setelah pemilu yang diperebutkan pada tahun 2014. Upaya PBB untuk dapat reunifikasi tersendat, dan sejak tahun 2016 Labia telah dibagi antara pemerintah Perdana Menteri Fayez al-Sarraj yang diakui secara internasional di dalam Tripoli dan pemerintah berbasis di Libya timur.

Namun, selama setahun terakhir, Libya yang menghadapi sebuah babak baru yang berbahaya. Pada April 2019, pasukan yang diperintahkan oleh Khalifa Haftar, yang didukung oleh pemerintah di timur, mengepung Tripoli, dan mendorong negara tersebut dan berhasil menyebabkan sebuah perang besar-besaran. Haftar mengaku memerangi teroris. Pada kenyataannya, walau beberapa saingannya adalah Islamis, mereka dalam milisi yang sama yaitu mengalahkan ISIS, dengan dukungan AS dan juga negara Barat lainnya.

AMERIKA SERIKAT, IRAN, ISRAEL, DAN TELUK PERSIA

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran juga meningkat menjadi lebih berbahaya pada tahun 2019. Dimana tahun 2020 membawa kedua negara tersebut dalam persaingan mereka ke titik puncak. Keputusan pemerintahan Trump untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir yang dilakukan pada tahun 2015 dan menjatuhkan sanksi sepihak terhadap Teheran telah menimbulkan bahaya yang signifikan, tetapi sejauh ini tidak menghasilkan sebuah diplomasi yang dicari oleh Washington .

Sebaliknya, Iran telah menanggapi apa yang dianggapnya sebagai serangan habis-habisan dengan meningkatkan program nuklirnya secara bertahap dan melanggar perjanjian. Ketegangan juga meningkat antara Israel dan Iran. Jika siklus ini nantinya tidak terputus, maka risiko konflik yang akan lebih luas juga akan meningkat.

ISRAEL-PALESTINA?

Sejak akhir Perang Dunia Kedua, perjuangan yang cukup sengit antara Israel dan Palestina telah menjadi salah satu dari konflik paling tragis dan tidak terselesaikan di dunia. Ini adalah sebuah kekacauan yang cukup rumit, tetapi pada satu tingkat sangat sederhana. Ini adalah sebuah konflik tentang wilayah. Akar konflik ini dimulai sejak zaman Alkitab. Tetapi dari perspektif yang ada di sejarah modern, akhir 1800-an dan awal 1900-an adalah pusat dari situasi konflik yang ada sekarang ini. Antara 1882 dan 1948, serangkaian Aliyah atau sebuah gerakan besar-besaran Yahudi dari seluruh dunia masuk ke suatu daerah, yang pada saat itu dari 1917 secara resmi dikenal sebagai negara Palestina.

Pada 1917, tidak lama sebelum Inggris menjadi kolonial di Palestina, negara tersebut mengeluarkan Deklarasi Balfour yang menyatakan, Pemerintah Yang Mulia mendukung pendirian rumah nasional untuk rakyat Yahudi yang ada di Palestina, dan akan melakukan upaya terbaik mereka untuk dapat memfasilitasi pencapaian tujuan ini. Masyarakat Palestina yang menolak langkah tersebut, tetapi sejarah tidak menguntungkan mereka. Menyusul kengerian Holocaust di mana hingga enam juta orang Yahudi terbunuh di Eropa, dorongan untuk dapat mendirikan sebuah negara Yahudi menjadi semakin kuat.

PERANG ARAB-ISRAEL

Pada 1947, PBB memilih untuk membagi wilayah yang diperebutkan tersebut menjadi tiga bagian; satu untuk orang Yahudi, satu lagi untuk orang Arab, dan rezim perwalian internasional di Yerusalem. Orang-orang Arab dimana tidak menerima kesepakatan tersebut, dan mengatakan bahwa PBB tidak punya hak untuk mengambil tanah mereka. Perang pun kemudian pecah dan berlangsung semakin keruh, hingga sekarang.

MENGAPA PERDAMAIAN BELUM TERCAPAI?

Setelah bertahun-tahun konflik yang diwarnai kekerasan, kedua belah pihak mencapai sebuah kesepakatan untuk damai pada 1993, di mana Palestina akan mengakui negara Israel dan juga Israel yang akan mengakui Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sebagai sebuah perwakilan yang sah rakyat Palestina. Disebut Perjanjian Oslo, kesepakatan itu juga menciptakan Otoritas Palestina yang memiliki beberapa kekuasaan pemerintahan sendiri yang terbatas di dalam wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza. Itu adalah sebuah kesepakatan sementara, sebelum apa yang seharusnya menjadi perjanjian damai dalam lima tahun.

Demikian itulah beberapa konflik yang terjadi dan harus diwaspadai tahun ini. Negara-negara konflik tersebut, didukung juga oleh negara besar lainnya untuk dapat melancarkan aksinya. Pada akhirnya ketegangan terjadi, saling kuat antara negara sekutu pun tidak terelakan lagi. Akibatnya banyak masyarakat yang terdampak karena konflik yang terjadi.

Fakta Yang diKetahui Tentang Perang Suriah

Ketika pada saat Amerika Serikat (AS) akan menyerang pangkalan militer Suriah yaitu pada Jumat, 7 April 2017, hal ini tentunya menjadi salah satu hal yang mengikatkan tentang kejadian 2003. Dimana pada saat itu AS menggempur Irak dengan dalih senjata pemusnah massal. Belakangan, ini dimana setelah diketahui 174.000 rakyat Irak yang tewas akibat perang itu, tersibak sebuah fakta bahwa Irak ternyata tidak mengembangkan senjata untuk pemusnah massal. Bayangkan, ketika sebuah kebohongan telah menjadi salah satu hal yang menyebabkan kematian ratusan ribu orang dan juga menyebabkan kehancuran sebuah bangsa. Dan, ironisnya, lagi dalam hal ini tidak ada yang bertanggung-jawab.

Fakta Yang diKetahui Tentang Perang Suriah

Apa hubungannya hal ini dengan sebuah serangan rudal AS yang dilesatkan ke Suriah baru-baru ini? Jadi, pada tanggal 7 April dimana tentara AS menembakkan 60 rudal tomahawk ke arah pangkalan militer Suriah yang berada di dekat kota Homs, Suriah. Serangan militer tersebut yang dimana secara tiba-tiba itu juga punya dalih: sebagai salah satu pembalasan atas serangan senjata kimia yang beracun yang dilakukan oleh militer dari pemerintah Suriah terhadap warga sipil.

Untuk diketahui, yang dimana pada tanggal 4 April lalu, pada saat itu terjadi serangan senjata kimia yang ada di kota Khan Sheikhoun, di sebuah Provinsi Idlib, Suriah yang terjadi di barat laut, yang dimana pada saat itu menewaskan 70-an orang warga sipil. AS yang langsung menuduh pemerintahan Bashar Al-Assad sendiri dimana  sebagai pelaku serangan senjata kimia tersebut.

Sayang, tuduhan itu adalah salah satu dari pemain situs joker123 dan tuduhan yang tidak didukung banyak bukti. Dan juga ternyata ironisnya, meski belum mengantongi sebuah bukti yang kuat, AS sendiri sudah melancarkan sebuah serangan penghukuman kepada suriah. Dan hal ini sendiri menjadi salah satu hal yang tidak menutup kemungkinan, AS yang menggunakan tuduhan yang tidak berdasar itu sebagai salah satu dalih untuk membuat sebuah agresi militer yang dibuat terhadap Suriah.

Berikut ini beberapa fakta terkait dengan perang Suriah:

Satu, tuduhan senjata kimia

Tuduhan dimana ketika pemerintahan Bashar Al Assad yang dituduh menggunakan senjata kimia dalam sebuah perang bukan kali ini saja. Tuduhan hal serupa juga sudah pernah bergulir yaitu pada tahun 2013 lalu. Namun, dari sebuah hasil investigasi tim independen yang dibentuk PBB tidak adanya sebuah bukti atas sebuah tuduhan tersebut. Carla del Ponte, yang dimana merupakan salah satu anggota yang ada dari tim investigasi PBB, yang dimana malah menyebut ketika kelompok oposisi Suriah yang malah menggunakan gas sarin.

Nah, tuduhan bahwa militer dari Assad yang menggunakan senjata kimia yang dilakukan di provinsi Idlib juga ternyata minim bukti. Sebagian sumber yang dimana dipakai oleh AS sendiri hanya berasal dari satu sisi, yakni adalah penentang pemerintahan dari  Assad dan juga media-media mainstream. Dr Shajul Islam, yang dimana dirinya jadi pahlawan dalam sebuah pemberitaan serangan senjata kimia ini, adalah salah satu orang bermasalah. Dia juga ternyata pernah terlibat penculikan dan juga penyiksaan dua jurnalis asing yang ada di Suriah yaitu pada tahun 2012. Dia juga ternyata diduga terkait dengan kelompok teroris jihad yang ada di Suriah.

Dokter inilah yang dimana dirinya melaporkan kejadian serangan gas yang dirinya bilang terjadi lewat kicauan-kicauannya di twitter. Bayangkan, dalam sebuah situasi dan juga serangan gas berbahaya dan juga pada saat situasi serba darurat, si dokter ini masih sempat-sempatnya main twitter. Foto dan juga video yang sempat diunggah oleh dokter dan juga paramedis soal serangan senjata kimia itu juga beberapa janggal. Beberapa foto yang dimana menunjukkan tim penyelamat tidak menggunakan sebuah sarung tangan dan juga menggunakan masker penghalau racun gas. Tentunya hal tersebut menjadi salah satu yang Aneh bukan?

Yang menarik juga dimana hasil dari analisa video yang ada dari Dokter Swedia untuk sebuah Hak Asasi Manusia atau (SWEDE). Menurut penyelidikan dimana analisa mereka, sebagian anak-anak yang sudah ditangani di dalam video itu yang sudah tidak bernyawa. Cara penyelamatannya juga yang non-medis dan juga kontra-produktif. Disamping itu juga dimana analisa suara dalam video tersebut yang juga janggal. Terkesan posisi korban yang juga diatur sedemikian rupa dengan sebuah  keperluan pengambilan gambar video itu.

White Helmet bukan pejuang kemanusiaan

White Helmet (WH), relawan dokter dan juga paramedis yang dimana menjadi pahlawan sekaligus juga seorang mesin propaganda isu serangan gas kimia ini, juga merupakan orang organisasi bermasalah. WH diketahui jiga dimana sangat pro-pemberontak dan juga anti-Assad. InfoWars menyebut WH yang dimana dirinya adalah jaringan Al-Qaeda yang juga didanai oleh George Soros dan juga pemerintah Inggris. WH, atau yang dimana sering juga dinamai Syria Civil Defense (SCD), yang dibentuk oleh seorang bekas militer Inggris, yaitu James Le Mesurier. Le Mesurier yang dirinya sendiri terkait dengan perusahaan militer swasta yang semacam Blackwater dan juga DynCorp.

Organisasi ini sendiri ternyata juga menerima dana 23 juta USD dari AS. Jutaan dollar yang juga didapat dari George Soros, Belanda dan juga Inggris. Juga dimana mereka mendapat sebuah fasilitas perlengkapan dan kendaraan yang mereka dapat dari Turki. Jadi, dimana jangan heran, ketika terjadi sebuah isu serangan senjata kimia yang ada di Idlib, Turki juga ternyata ikut cerewet. Beberapa foto dan juga video menunjukkan yang dimana beberapa personil white helmet yang terkait juga dengan beberapa kelompok jihadis, termasuk juga Front Al-Nusra, dan jaringan Al-Qaeda di Suriah.

Seorang dari anggota WH pernah mengumbar sebuah senyum di depan kamera usai dirinya memenggal leher seorang anak laki-laki. Media-media barat, yang  dimana juga sudah memang sejak awal anti-Assad, yang berperan besar dalam hal membesarkan WH. Sampai-sampai film mereka yang ada di Netflix mendapat sebuah hadiah film dokumenter terbaik di Academy Award dan juga masuk ke dalam nominasi Oscar.

Oposisi Suriah yang akan diuntungkan oleh serangan senjata kimia

Sebelum sebuah kejadian ini, pemerintahan Bashar Al-Assad yang dimana juga sedang di ujung kemenangan. Akhir 2016 lalu, dimana pada saat itu pasukan militer yang memang pemerintah berhasil untuk dapat merebut kembali Aleppo, yang dimana merupakan salah satu dari kota terbesar yang ada di Suriah, dari beberapa tangan pemberontak. Sebaliknya, ketika posisi oposisi dan juga kelompok dalam jihad yang dimana memang makin terjepit. Artinya, untuk dapat memukul habis mereka, pemerintah Al-Assad yang dimana tidak perlu menggunakan sebuah serangan gas kimia yang juga justru dimana akan mengundang sebuah  reaksi kemarahan internasional.

Tentu saja, kalau pemerintah Suriah yang memang benar menggunakan senjata kimia untuk dapat menghabisi lawannya yang dimana sudah lemas dan juga terjepit, itu tindakan yang menang sangat konyol. Sebab, hal tersebut merupakan sebuah tindakan konyol itu justru yang nantinya akan membuat Suriah sendiri akan digebuk ramai-ramai.

Itulah beberapa fakta yang ada tentang konflik yang ada di Timur Tengah, konflik yang berkepanjangan tersebut memang menjadi salah satu konflik yang juga menjadi salah satu yang mendapat banyak perhatian dari dunia. Semoga konflik tersebut dapat segera selesai.

Seperti Apa Wajah Timur Tengah

Pada tahun  2019, konflik lama yang ada di Timur Tengah akan menjadi sebuah konflik yang bertahan dan  juga muncul beberapa konflik baru. Perkembangan besar yang ada di negara Timur Tengah yang terjadi pada tahun 2019 sebagian besar konflik tersebut ditentukan oleh enam beberapa masalah utama seperti halnya: konflik di Suriah dan juga di Yaman, krisis Teluk, konflik Palestina-Israel, dan juga konflik persaingan regional. Ketika kita memulai pada tahun kesepuluh setelah dimulainya semua pemberontakan Arab, sayangnya, dalam hal tersebut hanya ada sedikit harapan bahwa akan terjadi perdamaian, transisi ke demokrasi, dan juga sebuah stabilitas di daerah Timur Tengah.  Tahun 2019 tidak terlalu membawa banyak sekali perubahan yang sedang berlangsung dan tidak mungkin cepat dapat terselesaikan. Beberapa bahkan mungkin juga menjadi lebih buruk dan juga konflik yang baru juga sudah banyak bermunculan. Dalam pergolongan yang sedang berkelanjutan ini Amerika serikat tentunya juga akan memainkan peran yang paling penting. Perselisihan politik di antara Presiden Donald Trump dan juga pemerintah Washington, khususnya, juga untuk kemungkinan-kemungkinan yang akan menentukan sebuah arah dan juga kebijakan luar negeri AS pada kawasan tersebut kawasan tersebut.

Diharapkan pada tahun yang akan datang seperti yang diungkapkan oleh penasihat Robert Mueller sendiri yang menyebut akan lebih banyak hasil yang menyedihkan yang menyedihkan terhadap beberapa dugan dan juga campur tangan antara Rusia khususnya pada pemilihan presiden 2016. Oleh karena itu, Trump  sendiri kemungkinan akan berusaha untuk dapat mengalihkan beberapa perhatian publik dengan cara mengambil sebuah keputusan yang dramatis tentang beberapa kebijakan luar negeri yang ada di Timur Tengah yang nantinya akan menjadi sasaran termudah.

Konflik Timur Tengah & Wajah Timur Tengah Saat Ini

Pada akhir tahun 2018 sendiri ada indikasi yang jelas tentang masalah ini seperti keputusan mengejutkan dari presiden Amerika Serikat pada pertengahan Desember yaitu untuk menarik lebih dari 2000 tentara Amerika Serikat dari laut Suriah secara luas dipandang sebagai salah satu upaya untuk menenangkan basis dukungannya emang kalo mengkonsolidasi sebuah kekuasaan dan juga mengendalikan pemerintah yang tidak setuju dengannya. Terlepas dari hal itu terus berlangsungnya perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang pada saat itu diprediksi sebagai perkembangan besar di timur tengah pada tahun 2019 sebagian besar hal tersebut akan ditentukan oleh beberapa masalah utama konflik seperti yang terjadi di Suriah dan Yaman, krisis Teluk, konflik Palestina-Israel, dan juga konflik persaingan regional. Dalam artikel ini akan dijabarkan satu persatu konflik yang terjadi di timur tengah kita tahu bahwa kesenjangan yang terjadi di timur tengah adalah salah satu masalah sosial yang hingga saat ini masih belum dapat terselesaikan.

KONFLIK SURIAH

Terlepas dari beberapa kekalahan oposisi Suriah dengan perebutan kembali wilayah oleh para pasukan yang pro rezim pada tahun 2018, konflik di Suriah yang menjadi salah satu situs sbobet sendiri masih jauh dari kata selesai. Bahkan lebih dari 40% wilayah Suriah masih belum di bawah kendali pemerintah Suriah. Penarikan pasukan Amerika serikat dari Suriah timur laut yang kaya akan sekali dengan minyak, gas, dan air kemungkinan nantinya akan memicu persaingan antara kekuatan eksternal utama dalam konflik seperti halnya Turki, Rusia, dan juga Iran. Ini juga kemungkinan akan mempengaruhi perjanjian zona Demiliterisasi yang mencegah serangan serangan besar terhadap beberapa kubu oposisi pada September lalu. Konflik yang terjadi di Suriah mungkin memasuki Fase baru perang proksi di mana Amerika Serikat memberikan Turki tanggung jawab untuk memblokir Iran di wilayah yang ingin dievakuasi. Penarikan pasukan Amerika Serikat juga akan merangsang pendekatan Israel yang lebih agresif kepada Suriah. Setelah terjadinya penarikan tentara Amerika Serikat Israel harus mengandalkan upaya sendiri untuk dapat melawan pengaruh Iran di Suriah dan akan berusaha untuk menekankan kegiatan militernya di wilayah Suriah.

Namun, Israel akan menghadapi satu tantangan besar yaitu Rusia yang mengendalikan wilayah udara Suriah. Pada bulan September sebuah insiden melibatkan jet tempur milik Israel menyebabkan jatuhnya sebuah pesawat Pengintai Rusia kematian anaknya beranggotakan 15 orang. Hal ini tentunya membuat marah Rusia, sejauh ini menolak untuk melanjutkan koordinasi militernya dengan Israel meningkatkannya ketegangan antara pemain asing utama di Suriah kemungkinan juga akan menunda lebih banyak solusi politik dari konflik tersebut. Sejauh ini trio Astana yang terdiri dari Rusia Turki dan juga Iran telah gagal untuk menyepakati pembentukan sebuah komite konstitusi sekarang dengan penarikan pasukan Amerika Serikat dari Suriah peluang untuk terbentuknya kesepakatan telah menjadi lebih sempit. Bahkan seluruh proses Astana bisa runtuh negosiasi perdamaian yang dipimpin oleh PBB Akan menemukan jalan buntu. Dengan penarikan Amerika Serikat juga berarti bahwa secara efektif meninggalkan sekutu Kurdi. Ini kemungkinan akan menghasilkan peningkatan drastis dalam hubungan Turki dan Amerika Serikat dan memulai kembali aliansi mereka di Suriah ini kemungkinan akan mengecewakan Rusia, yang kemungkinan akan meningkatkan ketergantungan pada milisi Iran untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Amerika Serikat Di timur laut Suriah. Penataan kembali juga bisa membawa jpg dengan serangan militer Turki, lebih dekat ke Rusia dibanding rezim Suriah.

PERANG DI YAMAN

Lepas dari kesepakatan gencatan senjata di kota pelabuhan dan juga kemajuan penting yang dibuat dalam negosiasi antara pihak pihak yang bertikai di Swedia, penyelesaian dari konflik empat tahun itu kemungkinan akan lama terwujudnya. Memang dengan melemahnya posisi Houthi setelah mengalami kehilangan Wilayah mereka selama dua tahun terakhir dan tekanan besar yang dihadapi kepemimpinan Saudi dapat menghentikan perang setelah terbunuhnya jurnalis saudi Jamal Khashoggi, mungkin untuk mempermudah utusan PBB, Martin Griffiths, untuk dapat menyatukan pihak-pihak yang bertikai di Swedia.

Namun kedua belah pihak masih yakin bahwa mereka dapat menang secara militer. Kaum Houthi Berfikir bahwa saudara sendiri pada akhirnya harus tunduk kepada tekanan internasional, untuk menghentikan para enam meninggalkan upaya mereka di Yaman. Koalis Yang dipimpin oleh saudi disisi lain juga yakin bahwa kemajuan baru baru ini terutama di Hodeidah pada akhirnya akan memaksakan mereka untuk menerima persyaratan untuk dapat mengakhiri perang. Jalan sendiri juga masih tidak mau membantu untuk mencapai penyelesaian akhir Iran masih berupaya agar sau di dapat menghentikan serangan di Yaman sehingga mereka tidak akan memiliki sumber daya untuk menangani kegiatan fron lain di timur tengah. Iran juga dapat memanfaatkan konflik Yaman ini sebagai salah satu cara untuk tawar menawar dalam kesepakatan besar untuk mencabut aksi Amerika Serikat dan menyelamatkan rencana Rencana Aksi Komprehensif Gabungan lah penarikan yang dilakukan Trump pada Mei lalu.

KRISIS TELUK

Terlepas dari upaya untuk mediasi yang dilakukan Kuwait yang luas dan meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat terhadap Arab Saudi tidak akan ber indikasi bahwa krisis teluk akan berakhir dalam waktu dekat. Pada awal Desember, Arab Saudi sendiri menolak untuk membahas krisis pada KTT GCC terakhir yang di lakukan di Riyadh, dimana Qatar sendiri hanya mengirim sebuah delegasi tingkat rendah. Keempat negara yang memblokade yaitu Arab Saudi, Bahrin dan juga Mesir percaya bahwa waktu di pihak akhirnya bahwa Qatar sendiri akhirnya akan menerima tuntutan mereka Qatar. Keempat negara yang memblokade (Arab Saudi, UEA, Bahrain dan Mesir) percaya bahwa waktu ada di pihak mereka dan Qatar pada akhirnya akan menerima tuntutan mereka. Qatar Sendiri akhirnya berpikir bahwa hal itu dapat mengatasi blokade dan menunggu keempat negara menyadari bahwa mereka sebenarnya membunuh diri mereka sendiri.

Itulah beberapa konflik kesenjangan yang terjadi di timur tengah hingga tahun 2020 seperti sekarang ini masih banyak konflik dan terus juga bermunculan konflik konflik baru di daerah timur tengah yang belum dapat terselesaikan. Tentunya hal ini bukan hanya sebagai salah satu masalah global tapi juga masalah sosial yang tentunya harus dapat diselesaikan. Semoga informasi ini dapat bermanfaat. Terima kasih.